Kamis, 05 Februari 2015

Perempuan Vintage

Kepada: Seorang Perempuan

Hujan deras selalu datang tiap sore akhir-akhir ini, terkadang bukan deras saja tetapi membawa serta angin yang sepoinya tak semilir dan petir yang berkilat-kilatan. Perempuan itu seringkali heran dengan cuaca yang dengan mudah terbalik. Pagi hingga siang begitu cerah bahkan terik sampai menimbulkan pening sedangkan sore hingga menjelang larut malam begitu dingin dan gigil. 

Sekalipun dia sudah bersiap-siap dengan cuaca itu masih saja ada hal tak terduga yang terjadi di sekelilingnya. “Kita selalu dipermainkan keadaan.” Begitu katanya ketika mendapat kabar-kabar tak terduga yang mengecewakan, ketika mendengar banyak peristiwa yang harus digagalkan padahal telah diniatkan begitu kuat.

Perempuan itu sudah malas menanggapi hal-hal yang tidak diinginkannya datang tiba-tiba, dia bisa tetap menjalaninya tanpa berkomentar apa-apa namun dalam hatinya berkecamuk banyak ketidaksukaan. Hal ini membuat dia terlihat begitu tenang padahal dia tak sedamai itu. Mungkin kemalasan ini bertengger begitu lekat pada dirinya hingga apapun yang mengusiknya hanya ditanggapi dengan selirik pandang kemudian sudah. Dia pernah dikatakan sebagai seseorang yang kurang peduli dengan sekitar, “Peduli dengan diri sendiri saja susah.” Begitu tanggapannya.

Entah bagaimana saat ini dia memandang hidupnya, mungkin dengan berjuta ambisi yang terpendam kemudian padam sebelum terlaksana atau memang tak ada secuil pun ambisi dalam hidupnya. Lempeng-lempeng saja menjalani hidup. Aku mengenalnya sebagai perempuan yang menggemari apapun tentang vintage

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik