Kepada: Seorang Perempuan
Hujan deras selalu datang tiap sore akhir-akhir ini, terkadang
bukan deras saja tetapi membawa serta angin yang sepoinya tak semilir dan petir
yang berkilat-kilatan. Perempuan itu seringkali heran dengan cuaca yang dengan
mudah terbalik. Pagi hingga siang begitu cerah bahkan terik sampai menimbulkan
pening sedangkan sore hingga menjelang larut malam begitu dingin dan gigil.
Sekalipun dia sudah bersiap-siap dengan cuaca itu masih saja ada hal tak
terduga yang terjadi di sekelilingnya. “Kita selalu dipermainkan keadaan.”
Begitu katanya ketika mendapat kabar-kabar tak terduga yang mengecewakan,
ketika mendengar banyak peristiwa yang harus digagalkan padahal telah diniatkan
begitu kuat.
Perempuan itu sudah malas menanggapi hal-hal yang tidak
diinginkannya datang tiba-tiba, dia bisa tetap menjalaninya tanpa berkomentar
apa-apa namun dalam hatinya berkecamuk banyak ketidaksukaan. Hal ini membuat
dia terlihat begitu tenang padahal dia tak sedamai itu. Mungkin kemalasan ini
bertengger begitu lekat pada dirinya hingga apapun yang mengusiknya hanya
ditanggapi dengan selirik pandang kemudian sudah. Dia pernah dikatakan sebagai
seseorang yang kurang peduli dengan sekitar, “Peduli dengan diri sendiri saja
susah.” Begitu tanggapannya.
Entah bagaimana saat ini dia memandang hidupnya, mungkin
dengan berjuta ambisi yang terpendam kemudian padam sebelum terlaksana atau
memang tak ada secuil pun ambisi dalam hidupnya. Lempeng-lempeng saja menjalani hidup. Aku mengenalnya sebagai
perempuan yang menggemari apapun tentang vintage.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar