Senin, 09 Februari 2015

Sebuah Bangku

Untuk kecemasan yang mampu dirasakan hanya dengan gerakan diam dalam duduk.

Biasa saja, tak ada ciri khas yang mampu menggambarkan keistimewaan. Namun banyak renungan bertengger di sana, sepeti mematuk-matuk puncak kepala. Pikiran seperti diseduh praduga-praduga yang kadang menuai salah, kadang memanen benar, atau kadang hanya jadi sebuah pertapaan singkat. Perenungan-perungan terkumpul di salah satu bagiannya, menampung banyak topang dagu yang seringkali mengumbar tanya-tanya tanpa jawab. Pada suatu saat pernah menjadi saksi keseriusan seseorang menyatakan kecintaannya, pernah pula menjadi pelampiasan ngilu paling nyeri akibat didustakan kepalsuan. 

Sebuah bangku itu... hanya bungkam. Sebab begitulah mungkin dia ditakdirkan, dengan rela menjadi sandaran bagi hati atau otak yang perlu didudukkan. Sebab tak selamanya ubin bersedia menopang. Tak ada yang berlebihan dari sebuah bangku tak bernama dan diketahui siapa pemiliknya. Dia terletak di sudut ruangan meski terkadang sering berpindah, sebab baginya satu titik tumpu saja merupakan tempat pulang bagi segala petualangan. Petualangan rasa juga asa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik