Seperti lagu rindu yang pernah
aku nyanyikan
Cinta yang jatuh pada sebuah
pandangan mata
Berbunga-bunga di hati kita
Semoga aku dan kau mampu
merawatnya hingga renta
Masih
ingatkah kau dengan sebait puisi yang kutulisakan di lorong sekolah yang masih
sepi untuk menungguimu menyelesaikan ritual membaca di perpustakaan? Kita
menontoni kawan-kawan ekstrakulikuler bola voli sambil duduk berdampingan. Kau
akan menceritakan halaman-halaman yang telah kau baca dan pasti akan berkata…
“Kau
mau meminjamnya nanti?”
Lamunanku
buyar, “Ken? Kamu di sini?”
Kau
tersenyum padaku, senyum yang masih tak kehilangan lesung pipinya. “Aku dengar
kamu mengajar di sini. Nggak nyangka ya kamu menjadi guru di sekolah kita dulu.”
“Ada
urusan apa ke sini, Ken?” Entah bagaimana mukaku terlihat, mungkin merah padam
seperti buah tomat. Aku terlalu terkejut kau datang ke sekolah ini lagi setelah
sekian tahun tak mendengar kabarmu, mungkin aku belum menyiapkan diri bertemu
kembali dengan cinta pertamaku dulu.
“Mau
meminjamkan kamu ini.” Kau memberikan sebuah buku kepadaku. “Puisi-puisinya aku
tulis sendiri, tadi aku menemui beberapa guru untuk memberikan undangan
launching bukuku. Ini kamu juga dapat, Bu guru Rinda.” Setelah itu sebuah
undangan berpindah tangan kepadaku.
“Kamu
jadi penulisa sekarang? Penyair? Ah, hebatnya.” Aku tak bisa menahan rasa
takjub
Kau
tertawa, “Aku pikir kamu nanti yang jadi penulis, ternyata kamu sudah
sememesona ini menjadi seorang guru.” Kau menyangjungku dan aku tak mampu lagi
berkata-apa. Lidahku kelu, entah mimpi apa aku semalam.
“Berkunjunglah
ke Bali, Rin.” Kau menepuk pundakku. “Aku tunggu ya di acara launching bukunya,
sampai jumpa.” Kau pergi berlalu dengan meninggalkan ketercenganganku. Buku
puisi dan undangan itu aku genggam dan kupelukkan erat.
*****
Malam
ini, aku kembali takjub disuguhi larik-larik indah yang kau rangkai di bukumu
ini, nampaknya jiwa seniman dari keluargamu menurun kepadamu. Aku membuka
halaman demi halaman, membacanya perlahan. Hingga sampailah aku pada halaman
akhir, aku terkejut ketika membacanya. Ada sebait puisiku di sana dan kau
menulis sesuatu di sampingnya.
Saya selalu terinspirasi dengan sebaris puisi yang dituliskan oleh seorang perempuan, puisinya itu pernah dibacakan di depan kelas. Sejak saat itu saya mengerti bahwa jatuh cinta memang lebih berbunga-bunga ketika puisi turut menyertainya. Beginilah saya mencoba mengenang cinta pertama saya dengan dia, dengan menulis puisi dari sedalam-dalamnya hati.
“Kamu
baca apa , Sayang?”
“Oh,
emm… ini… buku puisi milik teman. Aku diundang ke acara launchingnya lusa.”
“Hmm…
gitu, yuk tidur yuk. Besok lagi aja bacanya.”
Aku
tersenyum dan mengiyakan ajakan suamiku. Ah, puisiku dan puisimu memang hanya
ditakdirkan sebagai kenangan.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar