Rabu, 15 April 2015

Selarik Kenangan dan Puisi

Seperti lagu rindu yang pernah aku nyanyikan
Cinta yang jatuh pada sebuah pandangan mata
Berbunga-bunga di hati kita
Semoga aku dan kau mampu merawatnya hingga renta

                Masih ingatkah kau dengan sebait puisi yang kutulisakan di lorong sekolah yang masih sepi untuk menungguimu menyelesaikan ritual membaca di perpustakaan? Kita menontoni kawan-kawan ekstrakulikuler bola voli sambil duduk berdampingan. Kau akan menceritakan halaman-halaman yang telah kau baca dan pasti akan berkata…
                “Kau mau meminjamnya nanti?”
                Lamunanku buyar, “Ken? Kamu di sini?”
                Kau tersenyum padaku, senyum yang masih tak kehilangan lesung pipinya. “Aku dengar kamu mengajar di sini. Nggak nyangka ya kamu menjadi guru di sekolah kita dulu.”
                “Ada urusan apa ke sini, Ken?” Entah bagaimana mukaku terlihat, mungkin merah padam seperti buah tomat. Aku terlalu terkejut kau datang ke sekolah ini lagi setelah sekian tahun tak mendengar kabarmu, mungkin aku belum menyiapkan diri bertemu kembali dengan cinta pertamaku dulu.
                “Mau meminjamkan kamu ini.” Kau memberikan sebuah buku kepadaku. “Puisi-puisinya aku tulis sendiri, tadi aku menemui beberapa guru untuk memberikan undangan launching bukuku. Ini kamu juga dapat, Bu guru Rinda.” Setelah itu sebuah undangan berpindah tangan kepadaku.
                “Kamu jadi penulisa sekarang? Penyair? Ah, hebatnya.” Aku tak bisa menahan rasa takjub
                Kau tertawa, “Aku pikir kamu nanti yang jadi penulis, ternyata kamu sudah sememesona ini menjadi seorang guru.” Kau menyangjungku dan aku tak mampu lagi berkata-apa. Lidahku kelu, entah mimpi apa aku semalam.
                “Berkunjunglah ke Bali, Rin.” Kau menepuk pundakku. “Aku tunggu ya di acara launching bukunya, sampai jumpa.” Kau pergi berlalu dengan meninggalkan ketercenganganku. Buku puisi dan undangan itu aku genggam dan kupelukkan erat.
*****
                Malam ini, aku kembali takjub disuguhi larik-larik indah yang kau rangkai di bukumu ini, nampaknya jiwa seniman dari keluargamu menurun kepadamu. Aku membuka halaman demi halaman, membacanya perlahan. Hingga sampailah aku pada halaman akhir, aku terkejut ketika membacanya. Ada sebait puisiku di sana dan kau menulis sesuatu di sampingnya.
                Saya selalu terinspirasi dengan sebaris puisi yang dituliskan oleh seorang perempuan, puisinya itu pernah dibacakan di depan kelas. Sejak saat itu saya mengerti bahwa jatuh cinta memang lebih berbunga-bunga ketika puisi turut menyertainya. Beginilah saya mencoba mengenang cinta pertama saya dengan dia, dengan menulis puisi dari sedalam-dalamnya hati.
                “Kamu baca apa , Sayang?”
                “Oh, emm… ini… buku puisi milik teman. Aku diundang ke acara launchingnya lusa.”
                “Hmm… gitu, yuk tidur yuk. Besok lagi aja bacanya.”

                Aku tersenyum dan mengiyakan ajakan suamiku. Ah, puisiku dan puisimu memang hanya ditakdirkan sebagai kenangan. 

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik