Sabtu, 19 September 2015

Cerita dalam Kepala Saras dan Nawa

Aku harus mengakui tentang sepi, tentang rindu yang sedang membeku, membatu, dan tiba-tiba menyeru. Tapi aku harus mampu menikmati bagaimana nelangsanya merasa sendiri kali ini, ketika yang melekat padaku telah runtuh percaya dirinya.

"Akhir-akhir ini aku memerhatikanmu begitu murung, ada apa?" Saras nampaknya telah mampu membaca ekspresi mukaku, kita sudah tiga tahun bersahabat dan aku tak heran jika dia mulai lihai membaca kediamanku. Aku hanya tersenyum dan menggeleng, "nggak apa-apa."
"Bohong... aku sudah kenal kamu berapa lama sih, Naw? Tuh, lihat senyummu saja maksa. Kayak aku nggak paham aja kamu seperti apa, diammu itu pasti sedang memikirkan sesuatu. Kamu nggak sedang membuat puisi dalam kepala, kan?" Sial, ekspresi bertanya Saras begitu telak, seperti detektif yang sudah tahu motif sebuah kasus tetapi masih terobsesi untuk mengetahui bukti dari pelakunya sendiri.
"Apa sih, aku baik-baik aja." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulutku dan aku pura-pura sibuk mengaduk Cappucino Caramelku yang sudah leleh ice creamnya. Hingga beberapa menit berlalu dengan kesibukan masing-masing dan pertanyaan-pertanyaan Saras yang jawabannya masih kugantung dalam pikiran sendiri.
*****
Nawa sudah tak pernah merengek-rengek lagi kepadaku tentang laki-laki. Dulu, Nawa adalah salah seorang gadis kuliahan yang cepat sekali berganti pasangan, bahkan setelah putus cinta malam hari dengan mahasiswa teknik, paginya dia sudah sarapan bersama laki-laki dari fakultas yang sama. Dulu, Nawa seperti anak kecil yang minta boneka baru karena sudah bosan dengan bonekanya yang lama. Tapi aku tahu dia tidak memperlakukan pacar-pacarnya itu seperti boneka, aku tahu dia tulus mencintai seseorang, hanya saja Nawa mungkin terlalu sering menuntut sesuatu dari pacar-pacarnya. Aku melihat dia sebagai gadis manis, manja, dan begitu ceria. Mungkin itulah yang membuat para lelaki tertarik dengannya, kelebihannya yang lain adalah dia gadis yang sangat aktif meskipun bukan aktivis. Nawa sering hadir dalam acara-acara yang bernapaskan sastra. Ya, dia senang menulis dan membuat puisi. Mungkin hal ini pula yang membuat para lelaki yang sempat menjadi pacarnya dulu jatuh cinta pada Nawa. Bahkan aku sendiri sebagai sahabatnya begitu terkesima dengan kata-kata yang ia rangkai sebegitu rapinya menjadi sebuah puisi. Tapi aku sedang kehilangan sahabatku yang ceria itu, Nawa yang begitu bergairah. Akhir-akhir ini aku merasa dia begitu pendiam, begitu murung. Dan yang sangat menjengkelkan adalah dia sering memendamnya sendiri, meskipun aku tahu sebenarnya dia ingin sekali bercerita dan berbagi, hanya saja dia mencoba untuk melerai pertengkaran batinnya seorang diri. Jurus yabg paling ampuh adalah dengan terus mencecarnya dengan pertanyaan, setelah itu dia akan seperti sungai yang meluap; meluapkan segala perasaannya. Namun kali ini, jurusku itu mulai tak mempan.

Barangkali, untuk tak merasa bersedih kita harus membatasi diri. Tapi, mungkin lebih baik kita tahu dan belajar memperbaiki daripada merasa kecewa terlebih dahulu sebelum mencoba. Sebab diam, terkadang menjadi tak lagi bijaksana jika hanya merawat luka-luka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik