Sabtu, 13 Februari 2016

Amarah

Untuk amarah yang tertahan dan tak punya kata untuk bersuara

Apakah ada orang di dunia ini yang bercita-cita untuk menjadi seorang pemarah? Jika tidak ada, maka tak sepenuhnya hidup akan terbebas dari rasa marah. Mungkin amarah adalah salah satu sifat manusiawi, sebab tak ada suatu hal sepanjang usia diembuskan di tubuh kita akan sesuai rencana, berjalan seperti yang kita inginkan, jelas itu semua tak mungkin terjadi. Ada yang berkata bahwa amarah tak boleh dipendam lama-lama sebab akan jadi benci kemudian jadi dendam. Jadi, ketika kita marah haruskah kita bersuara lantang, mengucapkan umpatan-umpatan untuk meluapkan emosi? Barangkali, umpatan-umpatan itu mirip air mata yang ditangiskan ketika bersedih karena setelahnya akan merasa lega.
Aku belum mengetahui bagaimana keadaan begitu semakin buruk setiap harinya, semakin menumpukkan kecewa, dan amarah dibendung dengan diam. Aku takut menjadi pendendam, jika saja amarah yang kupunya hanya berlama-lama kupendam. Setidaknya harus ada ruang untuk melampiaskan rasa kecewa, tak suka, dan apa saja yang tak aku inginkan tapi tetap terjadi belaka. Aku selalu memimpikan tempat yang damai, tidak ada amarah yang diledakkan atau kecewa yang dihantamkan. Semua mengalir tenang, tapi aku akan tersadar bahwa selama aku masih manusia maka akan ada sisi gelap dan berontak dalam diriku. Bosan merasa tenang-tenang saja tapi pada suatu hari pasti akan ingin kembali bermimpi dan pulang dengan perasaan damai.

Semoga, amarah-amarah ini tak jadi kepiluan yang berdarah-darah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik