Jumat, 12 Februari 2016

Hari Ini, di Restoran Cepat Saji

Kepada seseorang yang selama 8 semester ini menjadi teman (entah sebutan itu sesuai atau tidak)

Aku tak yakin kita adalah sebenar-benarnya teman, sahabat juga sepertinya bukan istilah yang tepat. Tapi apalah arti sebuah istilah, kita sudah saling mengerti; pasti. Aku tak akan memberikan surat ini dengan memention akunmu, sebab kau berada tepat di depanku saat ini. Di restoran cepat saji, sibuk dengan smartphone masing-masing, kau stalking akun instagram idol-idolmu, aku sesegera mungkin membuat surat ini. Perbincangan kita seputar skripsi, tentang kawan-kawan kuliah, dosen, dan apapun itu. Barangkali di antara kita juga masih sungkan membahas perasaan. Tapi aku sudah tak boleh mengungkit-ungkit tentang ini, sekalipun kau baru saja putus dari perempuanmu. Perempuan yang katamu jarang sekali kauhubungi itu.

Aku memilih duduk di pojok ruangan, aku suka dengan pemandangannya yang miliki jendela kaca luas tanpa penghalang sehingga aku bisa melihat lalu-lalang kendaraaan atau awan. Musim sedang mendung dan aku masih membenci turunya hujan; semoga kau tidak. Kau ingat bagaimana kita dulu berbalas puisi di salah satu event di twitter? Ya duet puisi, aku kira kau lupa. Ketika kutanyakan langsung padamu ternyata kau masih ingat dan aku dibuat terkejut ketika kau ingat waktu event itu dibuat. Ah, puisi kadang memang seperti alarm atau lingkaran merah di kalender. Atau ada hal lain yang bisa membuatmu masih mengingat? Karena aku sudah begitu lupa, ingatanku telah penuh entah oleh apa itu. Berkali-kali kau menyentil keningku karena melamun. Aku juga tak tahu apa yang aku pikirkan, tapi akhir-akhir ini aku lebih senang dan sering diam sendiri kemudian tiba-tiba sudah berada di awang-awang lamunan. Ah, sudahlah.
Sepertinya, kuakhiri saja surat ini sebab kupikir tak ada pesan apa-apa yang bisa kauambil di dalamnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik