Aku menginginkan Bintang
yang telah diraih tangan orang lain
Langit masih begitu luas, pula rentangku yang masih sempit
Bintang itu tiba-tiba
jatuh tepat di debar jantungku
Namun Bintang itu tak pernah sadar di mana cahayanya
jatuh. Hai Mas Bintang, aku tahu kau tak pernah mengenalku pun aku tak pernah
punya keberanian untuk berkenalan. Nasibku tak baik untuk sekadar menjadi
temanmu, padahal kata banyak kawan aku harusnya sudah mengenalmu sejak lama
karena kau melakukan tugas yang sama denganku ketika penerimaan mahasiswa baru.
Mungkin memang kesempatan tak punya jalan untuk mempertemukan kita saat itu.
Mungkin aku pernah sesekali memandangmu sekilas di waktu lampau dan sudah
mengagumi sejak dulu hanya saja, baru dua hari ini aku merasakan hangat jalar
saat memandangmu. Ya, kedua pertemuan berturut-turut itu terjadi di tempat yang
sama; perpustakaan. Begitu aku akhirnya memercayai mitos tentang, “jika bertemu
dengan satu orang yang sama selama tiga kali berturut-turut maka, dia adalah
jodohmu.” Aku ingin mengamininya seketika jika saja hari ini aku bertemu
denganmu di tempat yang sama atau di lingkup kampus. Padahal sudah lama aku tak
menyambangi kampus sejak semester delapan kupijaki, hingga pada dua hari itu
perpustakaan kampus sangat menyenangkan hatiku dengan kehadiranmu yang meski
sekilas serta dengan seseorang yang kaucintai. Ahahaha, aku ingin tertawa
tiba-tiba sebab aku menginginkan seseorang yang telah menjadi milik seseorang.
Tiba-tiba pula sebuah lagu berputar berulang-ulang di kepalaku;
Biarkan aku
melukiskan bayangmu
karena semua
mungkin akan sirna
Bagai rembulan
sebelum fajar tiba
kau selalu ada
walau tersimpan
di relung hati
terdalam
Sebuah lagu milik Adera yang mungkin
tak keseluruhan lagunya menggambarkan perasaanku dengan pas, yang mungkin
harusnya bintang dalam lirik itu bukannya bulan, tapi lima baris lirik lagu itu
sudah cukup mewakili bagaimana aku saat ini terhadapmu, Mas Bintang. Aku juga
cukup senang dengan cara seperti ini saja --mengagumimu dari jauh—sebagai semangatku
menyusun skripsi. Aku tak ingin menyemogakan macam-macam tentang perasaanku
terhadapmu, hanya saja saat ini aku akan sering menyebutmu dalam ingatan doa-doa.
Surat ke-27 yang akhirnya ditujukan buat Mas Bintang, setelah beberapa surat sebelum ini hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar