Jumat, 26 Februari 2016

Buat: Mas Bintang ☆

Aku menginginkan Bintang yang telah diraih tangan orang lain
Langit masih begitu luas,  pula rentangku yang masih sempit
Bintang itu tiba-tiba jatuh tepat di debar jantungku

Namun Bintang itu tak pernah sadar di mana cahayanya jatuh. Hai Mas Bintang, aku tahu kau tak pernah mengenalku pun aku tak pernah punya keberanian untuk berkenalan. Nasibku tak baik untuk sekadar menjadi temanmu, padahal kata banyak kawan aku harusnya sudah mengenalmu sejak lama karena kau melakukan tugas yang sama denganku ketika penerimaan mahasiswa baru. Mungkin memang kesempatan tak punya jalan untuk mempertemukan kita saat itu. Mungkin aku pernah sesekali memandangmu sekilas di waktu lampau dan sudah mengagumi sejak dulu hanya saja, baru dua hari ini aku merasakan hangat jalar saat memandangmu. Ya, kedua pertemuan berturut-turut itu terjadi di tempat yang sama; perpustakaan. Begitu aku akhirnya memercayai mitos tentang, “jika bertemu dengan satu orang yang sama selama tiga kali berturut-turut maka, dia adalah jodohmu.” Aku ingin mengamininya seketika jika saja hari ini aku bertemu denganmu di tempat yang sama atau di lingkup kampus. Padahal sudah lama aku tak menyambangi kampus sejak semester delapan kupijaki, hingga pada dua hari itu perpustakaan kampus sangat menyenangkan hatiku dengan kehadiranmu yang meski sekilas serta dengan seseorang yang kaucintai. Ahahaha, aku ingin tertawa tiba-tiba sebab aku menginginkan seseorang yang telah menjadi milik seseorang. Tiba-tiba pula sebuah lagu berputar berulang-ulang di kepalaku;

Biarkan aku melukiskan bayangmu
karena semua mungkin akan sirna
Bagai rembulan sebelum fajar tiba
kau selalu ada walau tersimpan
di relung hati terdalam

Sebuah lagu milik Adera yang mungkin tak keseluruhan lagunya menggambarkan perasaanku dengan pas, yang mungkin harusnya bintang dalam lirik itu bukannya bulan, tapi lima baris lirik lagu itu sudah cukup mewakili bagaimana aku saat ini terhadapmu, Mas Bintang. Aku juga cukup senang dengan cara seperti ini saja --mengagumimu dari jauh—sebagai semangatku menyusun skripsi. Aku tak ingin menyemogakan macam-macam tentang perasaanku terhadapmu, hanya saja saat ini aku akan sering menyebutmu dalam ingatan doa-doa.

Surat ke-27 yang akhirnya ditujukan buat Mas Bintang, setelah beberapa surat sebelum ini hilang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik