Pada suatu masa yang jauh, aku ingin menarik diri kembali
Menjadi anak kecil yang senang digandeng tangannya.
Berjalan, menyaksikan lampu-lampu digulung bianglala
dan berdecak kagum oleh ketinggian.
/1/
“Bulan depan saja ya, kita naik
bianglala.” Suara parau itu kembali menyentak hatiku, hati kecil yang kecewa
dan harus kembali menerima janji ayah hingga waktu kapan akan ditepati. Aku
hanya mengangguk dan sesekali melihat balon warna merah muda bergerombol dengan
balon warna lain di lapak dagangan bapak-bapak penjual balon. Ya, balon yang
kulihat itu dengan warna kesukaanku tidak ada digenggamanku, tidak jadi
penghiburku ketika lagi-lagi kecewa sebab khayalanku duduk dan berada di
ketinggian bianglala hanya sampai sebatas janji di bibir ayah. Ayah
menggendongku tiba-tiba, mungkin melihat mimik wajahku yang nelangsa.
Barangkali bukan di hatiku saja yang kecewa tetapi milik ayah pun demikian.
Sesampai di rumah, kami tahu tidak ada makan malam tidak juga tadi di pasar
malam. Kami hanya ingin berbaur di keramain, berharap bisa mengganti sepinya
nyanyian ibu. Tapi tidak ada yang mampu mengganti suara teduh, apalagi di pasar
malam yang riuh.
Malam ketika aku duduk di kursi bianglala
dan meraih kenangan masa kecil itu,
Aku seperti didebar-debarkan bahagia
sekaligus direnggut ketakutan.
/2/
Jantungku berdebar cukup tak
berirama, di dahi berkucur keringat dingin. Aku tak mampu menyembunyikan gugup.
Gugup yang bermuasal dari rasa takut akan ketinggian, gugup yang dicipta oleh
kenangan masa kecilku, dan gugup ketika harus sedekat ini bersamamu. Di satu
bilik yang cukup sempit, kaki kami berimpitan. Aku ingin menyembunyikan lemas
sekaligus getaran kecil di lututku tapi kamu ternyata mampu membaca gelisahku. “Kamu
kenapa? Takut ketinggian? Bukannya kamu sudah lama ingin naik bianglala?”
Tetapi kamu hanya meruntuhiku dengan jejeran pertanyaan. Aku tersenyum kecut,
tidak menjawab iya atau tidak atau pun jawaban-jawaban yang lainnya. Kau menggenggam
tanganku secara tiba-tiba dan amat perlahan serta halus. “Ah, kamu semakin menambah debar di dadaku.” Batinku yang kemudian
beberapa rutukan meneruskan kalimat dalam hatiku. “Ada aku di sini, tidak perlu
takut. Lihat, dari sini kita bisa melihat kota lebih luas lagi.” Kau menunjuk
ke bawah dan memperlihatkanku gemerlap lampu malam. Memang benar, debarku
diganti oleh rasa kagum, atas indahnya malam dari dalam bianglala, dari teduh
matamu. Mungkin kau yang bisa menggantikan keteduhan milik Ibuku dulu dan saat
ini. “Kamu sering ke pasar malam waktu kecil?” Pertanyaanmu hanya kujawab
dengan angguk malu-malu. “Tapi aku tak
pernah naik bianglala yang semasa kecil kudamba. Baru kali ini dan nyatanya aku
dirundung banyak cemas setelah berhasil menaiki permainan putar ini.” Batinku.
Barangkali, yang berhasil membawa pada kegembiraan kanak-kanak
Ialah yang akan menjatuhimu cinta atau patah hati.
/3/
“Kenapa ya, kita baru
dipertemukan sekarang?” Tanyamu dengan sebersit senyum, aku turut menerbitkan
senyuman. “Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat. Dulu, semesta belum
merestui pertemuan kita.” Jawabanku kauhadiahi tatapan teduh tapi juga tajam,
aku menundukkan kepala segera. “Kamu cantik.” Begitu katamu, lalu jemarimu
singgah di daguku membawanya naik perlahan hingga tundukkanku telah sejajar
dengan wajahmu. “Kamu gemar sekali
mencipta debar.” Batinku. Pagutan yang berselang satu menit, di rumahmu. “Sudah
lama menunggu ya, mbak.” Kami berdua tersentak dan lekas menjauhkan wajah
masing-masing, suara itu tepat berada di belakangku. Aku menoleh dengan segera,
seperti tak asing. “Ibu…?!”
Pasar malam tetap gaduh,
Matamu dan suara ibuku juga tetap teduh.
Perihalmu bagai berjudi lempar gelang
Di botol-botol minuman ringan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar