Tampilkan postingan dengan label #FlashFiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #FlashFiction. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2016

Pasar Malam

Pada suatu masa yang jauh, aku ingin menarik diri kembali
Menjadi anak kecil yang senang digandeng tangannya.
Berjalan, menyaksikan lampu-lampu digulung bianglala
dan berdecak kagum oleh ketinggian.

/1/
“Bulan depan saja ya, kita naik bianglala.” Suara parau itu kembali menyentak hatiku, hati kecil yang kecewa dan harus kembali menerima janji ayah hingga waktu kapan akan ditepati. Aku hanya mengangguk dan sesekali melihat balon warna merah muda bergerombol dengan balon warna lain di lapak dagangan bapak-bapak penjual balon. Ya, balon yang kulihat itu dengan warna kesukaanku tidak ada digenggamanku, tidak jadi penghiburku ketika lagi-lagi kecewa sebab khayalanku duduk dan berada di ketinggian bianglala hanya sampai sebatas janji di bibir ayah. Ayah menggendongku tiba-tiba, mungkin melihat mimik wajahku yang nelangsa. Barangkali bukan di hatiku saja yang kecewa tetapi milik ayah pun demikian. Sesampai di rumah, kami tahu tidak ada makan malam tidak juga tadi di pasar malam. Kami hanya ingin berbaur di keramain, berharap bisa mengganti sepinya nyanyian ibu. Tapi tidak ada yang mampu mengganti suara teduh, apalagi di pasar malam yang riuh.

Malam ketika aku duduk di kursi bianglala
dan meraih kenangan masa kecil itu,
Aku seperti didebar-debarkan bahagia
sekaligus direnggut ketakutan.

/2/
Jantungku berdebar cukup tak berirama, di dahi berkucur keringat dingin. Aku tak mampu menyembunyikan gugup. Gugup yang bermuasal dari rasa takut akan ketinggian, gugup yang dicipta oleh kenangan masa kecilku, dan gugup ketika harus sedekat ini bersamamu. Di satu bilik yang cukup sempit, kaki kami berimpitan. Aku ingin menyembunyikan lemas sekaligus getaran kecil di lututku tapi kamu ternyata mampu membaca gelisahku. “Kamu kenapa? Takut ketinggian? Bukannya kamu sudah lama ingin naik bianglala?” Tetapi kamu hanya meruntuhiku dengan jejeran pertanyaan. Aku tersenyum kecut, tidak menjawab iya atau tidak atau pun jawaban-jawaban yang lainnya. Kau menggenggam tanganku secara tiba-tiba dan amat perlahan serta halus. “Ah, kamu semakin menambah debar di dadaku.” Batinku yang kemudian beberapa rutukan meneruskan kalimat dalam hatiku. “Ada aku di sini, tidak perlu takut. Lihat, dari sini kita bisa melihat kota lebih luas lagi.” Kau menunjuk ke bawah dan memperlihatkanku gemerlap lampu malam. Memang benar, debarku diganti oleh rasa kagum, atas indahnya malam dari dalam bianglala, dari teduh matamu. Mungkin kau yang bisa menggantikan keteduhan milik Ibuku dulu dan saat ini. “Kamu sering ke pasar malam waktu kecil?” Pertanyaanmu hanya kujawab dengan angguk malu-malu. “Tapi aku tak pernah naik bianglala yang semasa kecil kudamba. Baru kali ini dan nyatanya aku dirundung banyak cemas setelah berhasil menaiki permainan putar ini.” Batinku.

Barangkali, yang berhasil membawa pada kegembiraan kanak-kanak
Ialah yang akan menjatuhimu cinta atau patah hati.

/3/
“Kenapa ya, kita baru dipertemukan sekarang?” Tanyamu dengan sebersit senyum, aku turut menerbitkan senyuman. “Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat. Dulu, semesta belum merestui pertemuan kita.” Jawabanku kauhadiahi tatapan teduh tapi juga tajam, aku menundukkan kepala segera. “Kamu cantik.” Begitu katamu, lalu jemarimu singgah di daguku membawanya naik perlahan hingga tundukkanku telah sejajar dengan wajahmu. “Kamu gemar sekali mencipta debar.” Batinku. Pagutan yang berselang satu menit, di rumahmu. “Sudah lama menunggu ya, mbak.” Kami berdua tersentak dan lekas menjauhkan wajah masing-masing, suara itu tepat berada di belakangku. Aku menoleh dengan segera, seperti tak asing. “Ibu…?!”

Pasar malam tetap gaduh,
Matamu dan suara ibuku juga tetap teduh.
Perihalmu bagai berjudi lempar gelang

Di botol-botol minuman ringan.

Minggu, 31 Januari 2016

Apakah Aku Membunuhmu, Mirna?

Sore ini, kau tampak begitu murung. Apakah kekecewaan kembali merundung? 

“Hhh... haruskah aku bertemu dia?” Begitu gumaman darimu samar-samar kudengar.
Aku tak pernah keberatan dijadikan pelampiasan atas amarah atau rasa kesalmu karena aku tahu kau begitu menyukai bahkan fanatik denganku, hampir seluruh benda di kamarmu selalu serupa denganku; dari warna hingga bentuknya. Kau juga berujar bahwa akulah satu-satunya hal yang membuatmu kembali merasa tenang, bahkan kau seringkali menggigitku dengan begitu nafsunya untuk meluapkan emosi; aku akan diam saja. Tapi siapakah yang akan kautemui?
 
Belum terjawab pertanyaanku seseorang menghampirimu dengan membawa bingkisan, “Hai, Mir. Apa kabar? Ini oleh-oleh untukmu dari Swiss.” Kau menerima dengan tersenyum, membuka bingkisannya dan memakan isinya yang berbentuk bulat secuil. “Cokelat dari Swiss memang en...” Kata-katamu terputus dan kau tak pernah bangun dari pingsan yang tiba-tiba itu.

Oh tidak! Mirna, apakah aku telah membunuhmu? Seketika aku merasa begitu panik sekaligus sedih luar biasa.

Selasa, 26 Januari 2016

Pertemuan yang (me)Lesap(kan)

Di ambang pintu klinik Mpret menatapku tajam dan aku hanya terdiam, bisu karena kata-kata seolah ditusuk oleh sepasang mata Mpret. Ada apa sih? Aku membatin antara kesal dan khawatir. Sebab suatu kali pernah dia terpeleset jatuh di tempat yang sama; di ambang pintu, hendak menemuiku karena kegirangan bertemu sepupunya yang namanya selalu bergema di telingaku ketika disebut; Bong. Bagaimana tidak, selain bergema kadang nama itu juga berdengung  dalam kepalaku, karena aku seperti mendengar bunyi gong dipukul. Bong memintaku untuk bertemu dengan seseorang yang harus kusembuhkan dengan terapi listrikku, orang itu bernama Alfa. Nama itu juga terasa aneh di telingaku, karena setiap kali mendengarnya seperti ada gelombang listrik di tubuhku yang menguat, erat, ingin mengikat ke tubuhnya. Barangkali, ada magnet di sana. “Kali ini siapa lagi?” Tanyaku penasaran pada Mpret. “Dia adalah seseorang yang akan mewujudkan seluruh impianmu, mungkin impianku juga.” Lalu Mpret keluar dari ambang pintu dan segera kembali dengan menggandeng sebuah lengan. “Kenalkan, aku Star.” Dia mengulurkan tangannya.

Aku suka petir, aku terobsesi pada  angkasa, tapi aku tak pernah berminat bertemu bintang; apalagi bintang jatuh.

“Elek...” Suaraku terputus, lalu aku lesap entah ke mana. Seperti diisap sekaligus diempaskan entah ke mana.

Tak semua bintang jatuh mengabulkan harapan, Mpret!

Selasa, 20 Januari 2015

Aku Ingin Terbang Denganmu



            “Aku ingin terbang denganmu. Tapi apa daya jika sayapku tak cukup kuat untuk itu.” Katanya saat beberapa daun kering jatuh dari pohon mahoni dan diserak-serakkan angin yang tak hanya semilir. Entah dari mana datangnya sesak yang menyembul di dalam rongga pernapasanku saat mendengar kalimat dengan nada dan mimik sesendu itu. Udara yang kuhirup tak selega saat kita duduk bersantai atau bergelak tawa tak usai-usai. Aku juga tak melihat ia membawa belati atau sepucuk duri untuk turut dihamburkan ke oksigen yang akan kumasukkan dalam paru-paru, tapi kesakitan telah bermuara di rongga dada ini. Mungkin nyeri bermuasal dari dirinya pula. Baru kali ini aku merasakan kesedihan menular hingga membuatku mau tak mau turut andil. Aku tak mampu lagi berucap, menimpali kalimatnya itu barang sekecap.
            “Mengapa kau jadi peragu?” Tanyaku akhirnya, setelah angin seperti mendengus kepadaku agar segera berkata apapun kepadanya meski tak menghibur galau sama sekali. Aku benci dipaksa untuk bicara tapi untuk kali ini nampaknya memang aku harus sedikit meredam sunyi agar keadaan ini tak semakin terasa nyeri.
            “Aku tak ragu tapi memang semesta yang menakdirkan begitu.” Dia sama sekali tak melihatku ketika mengucapkan kalimat itu, matanya memandang kosong ke depan. Tak kulihat harapan bertengger di pelupuk mata yang biasanya berbinar dari pagi hingga senja datang.
            “Jangan putus asa, Pu!” Aku dekatkan diriku, hendak memeluknya.
            Dia bergeming, “Bahkan untuk sekadar memeluk saja, kamu akan menggilasku. Meremukkanku!” Raut wajahnya nampak memelas. Sepertinya ia ingin menghambur di pelukanku juga tapi ia selalu mengurungkan niat itu berkali-kali pula.
            Desauan angin kembali meracau, aku melihatnya bertambah risau. Gerak tubuhnya semakin kacau, dia berusaha menahan terpaan angin yang siang ini terasa lebih kencang dari biasanya.
            Aku menatapnya sejenak, ragu. “Kamu pulang saja ya, nampaknya kurang sehat.” Aku semakin merasa takut jika nanti dia pingsan karena kesedihan ini.
            Dengan mata berkaca-kaca dia menatapku sekilas lalu melemparkan pandangan jauh di depan sana. “Salahkah jika aku terlalu berharap, Ru? Bukankah impian tak memiliki batas? Aku ingin terus bersamamu, kita telah merestui adanya perbedaan tapi mengapa untuk sekadar terbang denganmu saja tak bisa. Tak seadil inikah semesta, Ru?” Matanya semakin bergenang, emosinya mulai buncah. Aku salah tingkah, bingung harus berbuat apa. Aku memilih menelan ludah dan diam.
            Suaranya semakin serak kudengar, “Aku selemah ini ya, Ru?” Akhirnya dia menatapku, mencari dua bola mataku. Oh, atau mencari jawaban atas pertanyaannya tadi? Aku tak tahu, sekuat tenaga tak kurasakan pedih yang semakin getir di penjuru hatiku. Aku harus menciptakan keteduhan di balik sorot mataku agar dia lupa dengan kesedihan yang sedang meluap.
            Aku menoleh padanya, mataku turut sayup menyaksikan tatapannya yang sendu itu, “Pu, jika kamu lemah. Tak akan seindah ini sayapmu, kamu memiliki keindahan yang tak akan pernah bisa aku punya. Corak-corak unik di dirimu adalah hasil jerih kesabaranmu yang tabah menunggu. Kamu seseorang yang paling tenang yang pernah kutemui, mampu berdiam diri berjam-jam lamanya demi mendapatkan keelokan. Kamu tak selemah yang kamu pikirkan, Pu. Kamu tak selemah itu!” Kini aku yang terpantik emosi, rasanya tak tahan lagi jika harus melihat orang yang aku kasihi begitu bersedih.
            Dia membuang muka, aku mendengar helaan napas yang cukup berat pula, “Aku ingin sekuat kamu, Ru. Tahan oleh segala ujian semesta meski kerap menelan pahit goresan-goresan peluru yang sering ditujukan padamu dengan sengaja. Sedang aku? Melawan jemari lentik saja tak bisa. Kamu mampu berkawan dengan angin jenis apa saja, kepakmu kuat menahan beban terpaan. Sedang aku? Dihembuskan napas dengan sedikit kencang saja sudah sempoyongan.” Air mata akhirnya jatuh juga dari pelupuk matanya.
            Kemudian gemerisik dedaunan seakan membicarakan kita yang sedang dirundung nestapa dan keputus-asaan. Mereka seperti kawanan bibir yang mencibir kita. Mungkin mereka menati-nanti perpisahan tiba. Semenjak kita jatuh cinta, nampaknya alam tak menyetujuinya. Tapi bagiku, perasaan tak boleh dengan mudah dikalahkan oleh apa saja jika memang ketulusan sudah  bersemayam pada dua hati yang saling mencinta.
            “Aku hanya ingin bersamamu, terbang dengan kepak sayap yang sama. Kepak yang sama-sama kuat.” Dia kembali membuka suara dengan sedikit isakan.
            Aku diam saja.
            “Apakah aku salah ingin menjadi burung?”
            Aku makin bungkam.
            “Ru, aku mencintaimu semanis madu yang aku hisap setiap pagi. Tapi nampaknya memang kita tak direstui semesta untuk saling terbang bersama karena porsi angin yang menerbangkan kita berbeda. Tetaplah jadi kuat, Ru. Harusnya kamu tak pernah menaruh rasa kepadaku sebab aku tahu akan ada betina yang lebih pantas dariku dengan banyak telur yang akan dilahirkannya, memiliki masa hidup yang lebih lama dariku, dan dia sebangsa denganmu.” Tepat ketika jingga senja menyemburat, dia pergi dari dahan pohon mahoni besar ini tanpa lagi meletakkan isyarat atau bahkan salam perpisahan.
            “Ya, Pu. Mau bagaimana kita berbuat jika dari awal saja kita telah banyak berbeda? Bukan dari spesies yang sama. Aku seekor burung dan kamu seekor kupu-kupu.” Aku tertunduk lemas.


*****
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik