Di ambang pintu klinik Mpret menatapku
tajam dan aku hanya terdiam, bisu karena kata-kata seolah ditusuk oleh sepasang
mata Mpret. Ada apa sih? Aku membatin
antara kesal dan khawatir. Sebab suatu kali pernah dia terpeleset jatuh di
tempat yang sama; di ambang pintu, hendak menemuiku karena kegirangan bertemu
sepupunya yang namanya selalu bergema di telingaku ketika disebut; Bong.
Bagaimana tidak, selain bergema kadang nama itu juga berdengung dalam kepalaku, karena aku seperti mendengar
bunyi gong dipukul. Bong memintaku untuk bertemu dengan seseorang yang harus
kusembuhkan dengan terapi listrikku, orang itu bernama Alfa. Nama itu juga
terasa aneh di telingaku, karena setiap kali mendengarnya seperti ada gelombang
listrik di tubuhku yang menguat, erat, ingin mengikat ke tubuhnya. Barangkali,
ada magnet di sana. “Kali ini siapa lagi?” Tanyaku penasaran pada Mpret. “Dia
adalah seseorang yang akan mewujudkan seluruh impianmu, mungkin impianku juga.”
Lalu Mpret keluar dari ambang pintu dan segera kembali dengan menggandeng
sebuah lengan. “Kenalkan, aku Star.” Dia mengulurkan tangannya.
Aku suka petir, aku terobsesi pada angkasa, tapi aku tak pernah berminat bertemu
bintang; apalagi bintang jatuh.
“Elek...” Suaraku terputus, lalu
aku lesap entah ke mana. Seperti diisap sekaligus diempaskan entah ke mana.
Tak semua bintang jatuh mengabulkan harapan, Mpret!