Kamis, 19 Februari 2015

Angan, Kenangan, dan Jabat Tangan


Surabaya, 01.40
Untuk angan dan kenangan

Berkerumunlah rindu ketika surat dari Bosse dipaparkan di website, pula rasa kecewa yang teramat. Rindu itu berasal dari kenangan akan kota Bandung dan kecewa teramat itu bermula karena upayaku pasti gagal.

Jujur saja, aku sudah menabung untuk pergi ke Bandung (sekali lagi) mengikuti gathering #30harimenulissuratcinta. Sempat berpikir akan nekat jika waktu gathering yang semakin dekat tetapi dana belum terkumpul, aku akan menggunakan uang untuk membayar kuliah dan memecah celengan yang masih setengah tingginya. Aku juga akan tidak peduli jika memang harus pergi sendiri, sebab aku pernah melakukannya sekali di tujuan yang sama; kota Bandung. Waktu itu berjam-jam duduk di kereta api seorang diri, demi menemui pujaan hati. Tapi itu sudah menjadi kenangan yang aku kubur dalam-dalam. Mungkin kali ini, Bosse dan segala yang berkaitan dengan #30harimenulissuratcinta yang menjadi pujaan hatiku. Jadi aku mengupayakan untuk bisa hadir ke acara gathering di Jln. Cihapit yang mungkin jauh atau mungkin dekat dari Jln. Lodaya tempat kenanganku dicipta. Aku tak begitu tahu wilayah-wilayah di kota bunga itu, tapi aku setuju dengan bosse jika kota Bandung mewakili kata cinta. Sebab aku pernah menemukan cinta di sana meski harus berakhir dengan kecewa pula lara.

Bosse, seandainya aku benar-benar mampu datang ke acara gathering, sederhana saja; aku ingin menjabat tangan semua orang yang datang di sana. Entahlah, hanya itu yang kuangankan. Aku merasa akan jatuh cinta berkali-kali di sana, akan banyak senyum yang terbit. Setidaknya aku bisa menenggelamkan kenangan kelam di kota Bandung waktu itu dan menggantinya dengan bertemu dan berkenalan dengan mereka yang andil berpartisipasi dalam #30harimenulissuratcinta. Belum apa-apa angan tentang datang ke acara gathering sudah membuatku berdebar, mungkin ketika aku memang diizinkan ke sana bahagia melebur dalam debark itu. Ah, membayangkannya saja sudah membuatku senang.

Jika saja, gathering diselenggarakan di Surabaya mungkin tak akan kembali kuingat kenangan di kota Bandung. Tapi aku tetap berharap suatu saat gathering #30harimenulissuratcinta bisa diadakan di Surabaya. Dan di sinilah letak kecewaku yang sempat membuatku patah hati, gathering itu pasti menjadi sekadar angan. Gathering itu hanya menjadi pengingat kenangan sesaat di kota Kembang. Sebab suatu musibah menghabiskan seluruh tabunganku, rasanya sama seperti patah hati diputuskan pujaan hati. Rencana yang sudah aku persiapkan hangus, bahagia yang aku angankan turut pupus. Bosse, kesedihan ternyata bisa datang kapan saja dan karena alasan apa saja tanpa diduga-duga. Surat ini aku buat mungkin untuk penghiburan bagi kekecewaanku tak bisa hadir memenuhi undangan gathering awal Maret itu. Yang paling mengganggu adalah kenyataan bahwa aku tak akan pernah bisa menjabat tangan semua orang yang datang di sana, apalagi berkenalan. Ah, Bosse… aku cukupkan di sini saja membalas surat untuk tema “One Day, One Letter” rasanya aku takut perasaan kalut tentang acara gathering semakin larut.

Salam sendu,
Rena

1 komentar:

  1. halo Rena,

    kenangan kadangkadang seperti jembatan. kamu hanya cukup melaluinya untuk pindah ke tempat lain. jangan terpuruk di kenangan. ayo jatuh cinta lagi, karena jatuh cinta membuat kamu hidup lagi.

    salam penuh cinta,

    bosse @poscinta

    BalasHapus

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik