Kepada Nisa,
Aku tak yakin kau masih mengingatku atau tidak, aku juga tak
yakin kau masih ingin berteman denganku atau tidak. Ini semua tentang
kekecewaan yang aku pendam sekian lama semenjak masa kecil kita ditumbuhkan
usia. Aku masih ingat ketika usahaku dengan Ibu untuk menemuimu kembali hanya
berakhir dengan kisah-kisah sedih yang tak pernah mau kau bagikan denganku.
Kenyataan amat pilu yang pasti tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Aku juga
tak tega jika melihatmu ditikam banyak peristiwa yang menyedihkan itu tapi
sedikit pun kau tak menceritakannya padaku. Seakan-akan hubungan kita
kaugunting dan putus. Sampai pada kesempatanku mengetahui hal pahit itu dari
Ibumu, aku tahu kau memang sengaja menghindariku.
Rasa malu tidak selalu memalukan, Nis. Rasa itu hanya
milikmu sendiri, hanya ketakutanmu sendiri. Mana mungkin aku mempermalukanmu
setelah aku mengetahui hal yang kau anggap memalukan itu. Rasanya aku ingin
selalu bekunjung ke rumahmu sampai aku bisa menemuimu kembali, setidaknya
izinkan aku memberikan semangat kepadamu. Semangat yang pernah kita eratkan
bersama ketika masih senang bermain ayunan dan seragam berompi merah marun.
Seandainya kau tak pergi sendiri di suatu tempat yang entah, atau hal yang kau
anggap memalukan itu tak mengganggu kelangsungan hidupmu, mungkin sampai saat
ini kita masih bisa tertawa bersama-sama. Aku tak akan menjabarkan hal
memalukan itu di sini, aku mengerti bahkan itu kau anggap aib yang menjijikkan
dan tak sudi kau ungkit-ungkit lagi. Aku hanya ingin menuliskan surat ini untuk
mengingatmu kembali. Kelak, aku ingin bertemu denganmu lagi setelah rasa malu
tak menghalangi, meski hanya sekali kemudian menjadi tidak sama sekali.
Sudah lama aku menunggu suratmu :)
BalasHapus