Rabu, 18 Februari 2015

Temu Dihalang Malu


Kepada Nisa,

Aku tak yakin kau masih mengingatku atau tidak, aku juga tak yakin kau masih ingin berteman denganku atau tidak. Ini semua tentang kekecewaan yang aku pendam sekian lama semenjak masa kecil kita ditumbuhkan usia. Aku masih ingat ketika usahaku dengan Ibu untuk menemuimu kembali hanya berakhir dengan kisah-kisah sedih yang tak pernah mau kau bagikan denganku. Kenyataan amat pilu yang pasti tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Aku juga tak tega jika melihatmu ditikam banyak peristiwa yang menyedihkan itu tapi sedikit pun kau tak menceritakannya padaku. Seakan-akan hubungan kita kaugunting dan putus. Sampai pada kesempatanku mengetahui hal pahit itu dari Ibumu, aku tahu kau memang sengaja menghindariku.

Rasa malu tidak selalu memalukan, Nis. Rasa itu hanya milikmu sendiri, hanya ketakutanmu sendiri. Mana mungkin aku mempermalukanmu setelah aku mengetahui hal yang kau anggap memalukan itu. Rasanya aku ingin selalu bekunjung ke rumahmu sampai aku bisa menemuimu kembali, setidaknya izinkan aku memberikan semangat kepadamu. Semangat yang pernah kita eratkan bersama ketika masih senang bermain ayunan dan seragam berompi merah marun. Seandainya kau tak pergi sendiri di suatu tempat yang entah, atau hal yang kau anggap memalukan itu tak mengganggu kelangsungan hidupmu, mungkin sampai saat ini kita masih bisa tertawa bersama-sama. Aku tak akan menjabarkan hal memalukan itu di sini, aku mengerti bahkan itu kau anggap aib yang menjijikkan dan tak sudi kau ungkit-ungkit lagi. Aku hanya ingin menuliskan surat ini untuk mengingatmu kembali. Kelak, aku ingin bertemu denganmu lagi setelah rasa malu tak menghalangi, meski hanya sekali kemudian menjadi tidak sama sekali.

1 komentar:

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik