Selasa, 24 Februari 2015

Kepada Fa

Untuk pesona seorang, Fa

Hai Fa, sudah berapa surat cinta yang kau dapat? Mungkin begitu melimpah. Aku berada di antaranya, kali ini. Tidak ada yang istimewa dalam surat cinta ini, namun izinkan aku menuliskannya untukmu. Ah, iya maaf jika dari awal aku memanggilmu dengan sebutan Fa. Entahlah, mungkin banyak nama panggilan lain untukmu yang diistilahkan sebagai “panggilan sayang”, mungkin Fai, mungkin Sal, Mungkin Oda, atau lainnya. Tapi panggilan Fa merupakan susunan dua huruf yang selalu mengingatkan aku kepadamu, sungguh.

Sepertinya aku adalah salah satu penggemarmu yang begitu terlambat, telat menyadari betapa kau memiliki pesona. Awalnya aku mengenalmu melalui akun twitter dan tumblr, tertarik dengan nama akunmu yang unik kemudian tulisan-tulisanmu yang luar biasa menarik. Hingga pada suatu malam aku sangat bersyukur, akhirnya diberi kesempatan datang dalam sebuah acara yang kau turut andil berkarya. Ah, jatuh cinta rasanya. Tidak hanya karena tulisan-tulisanmu tapi juga aura yang indah kau pancarkan hanya melalui potret wajahmu. Tanpa bertemu pun aku menduga jika kau seseorang yang begitu menyenangkan, tak terlepas dari tampan. Entahlah, tentangmu aku masih sampai batas menerka. Menggapai? Sebatas chat saja. Tak apa, sebatas itu pun aku sudah bahagia. Semoga kelak kita benar-benar bisa bertemu.

Fa, akhir-akhir ini semenjak semester baru di perkuliahan, aku sering memikirkanmu. Mengagumimu berulang kali. Apalagi kau pernah berkata akan melakukan perjalanan dan menyinggahi kotaku. Seperti ada yang kutunggu-tunggu semenjak itu tapi aku belum tahu kapan kau benar-benar akan berkunjung. Andai saja bisa semudah itu menjangkaumu yang jauh, tapi aku belum punya nyali untuk pergi ke kotamu. Namun menunggumu adalah harapan yang membuatku kembali bersemangat, kembali bergairah menjalani siklus hidup yang jenuh. Semoga kau tahu bahwa dirimu sudah menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk aku. Mungkin telah banyak doa yang ditujukan untuk kebahagiaanmu, Fa. Maka dari itu berbahagialah selalu, kau memang pantas untuk dicintai. Setidaknya begitu aku menduganya.


Maaf sekali lagi untuk surat cinta yang tak romantis dan tak penting ini. Semoga kau sudi membacanya meski tak ada niatanmu untuk membalas. Terima kasih, Fa. Teruslah berkarya, sebab karya-karyamu seringkali mewakili banyak rasa, pun menularkan cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik