Untuk pesona seorang, Fa
Hai Fa, sudah berapa surat cinta
yang kau dapat? Mungkin begitu melimpah. Aku berada di antaranya, kali ini.
Tidak ada yang istimewa dalam surat cinta ini, namun izinkan aku menuliskannya
untukmu. Ah, iya maaf jika dari awal aku memanggilmu dengan sebutan Fa.
Entahlah, mungkin banyak nama panggilan lain untukmu yang diistilahkan sebagai
“panggilan sayang”, mungkin Fai, mungkin Sal, Mungkin Oda, atau lainnya. Tapi
panggilan Fa merupakan susunan dua huruf yang selalu mengingatkan aku kepadamu,
sungguh.
Sepertinya aku adalah salah satu
penggemarmu yang begitu terlambat, telat menyadari betapa kau memiliki pesona.
Awalnya aku mengenalmu melalui akun twitter dan tumblr, tertarik dengan nama
akunmu yang unik kemudian tulisan-tulisanmu yang luar biasa menarik. Hingga
pada suatu malam aku sangat bersyukur, akhirnya diberi kesempatan datang dalam
sebuah acara yang kau turut andil berkarya. Ah, jatuh cinta rasanya. Tidak
hanya karena tulisan-tulisanmu tapi juga aura yang indah kau pancarkan hanya
melalui potret wajahmu. Tanpa bertemu pun aku menduga jika kau seseorang yang
begitu menyenangkan, tak terlepas dari tampan. Entahlah, tentangmu aku masih
sampai batas menerka. Menggapai? Sebatas chat saja. Tak apa, sebatas itu pun
aku sudah bahagia. Semoga kelak kita benar-benar bisa bertemu.
Fa, akhir-akhir ini semenjak
semester baru di perkuliahan, aku sering memikirkanmu. Mengagumimu berulang
kali. Apalagi kau pernah berkata akan melakukan perjalanan dan menyinggahi
kotaku. Seperti ada yang kutunggu-tunggu semenjak itu tapi aku belum tahu kapan
kau benar-benar akan berkunjung. Andai saja bisa semudah itu menjangkaumu yang
jauh, tapi aku belum punya nyali untuk pergi ke kotamu. Namun menunggumu adalah
harapan yang membuatku kembali bersemangat, kembali bergairah menjalani siklus
hidup yang jenuh. Semoga kau tahu bahwa dirimu sudah menjadi inspirasi bagi banyak
orang, termasuk aku. Mungkin telah banyak doa yang ditujukan untuk
kebahagiaanmu, Fa. Maka dari itu berbahagialah selalu, kau memang pantas untuk
dicintai. Setidaknya begitu aku menduganya.
Maaf sekali lagi untuk surat
cinta yang tak romantis dan tak penting ini. Semoga kau sudi membacanya meski
tak ada niatanmu untuk membalas. Terima kasih, Fa. Teruslah berkarya, sebab
karya-karyamu seringkali mewakili banyak rasa, pun menularkan cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar