Sabtu, 21 Februari 2015

No Mention

Sidoarjo, 01.33
Selamat pagi, Gi.

Nampaknya memang belum benar-benar pagi saat ini, tapi biarlah selamat pagi sebagai sapaan pembuka bagi suratku yang ke sekian ini. Apa kabar? Sudah menambah berapa koleksi (mendaki & berpuisi)? Buatku, kau selalu mengagumkan dengan dua hal itu. Kau mengikuti event ini juga, kan? #30harimenulissuratcinta, dan surat ke-22 ini untukmu. Surat kedua untukmu di event ini. Suratku yang pertama pasti tak kau baca, surat hari pertama yang sudah aku niatkan untukmu. Nampaknya sedikit memalukan jika aku harus berulang kali mengirimimu surat, semoga kau tak terganggu dengan hal ini.

Entah apa yang harus kusampaikan lagi dalam surat untukmu ini, tapi aku hanya ingin menulisnya dan aku berharap akan sampai kepadamu (pula kau membacanya). Setelah aku cukup kecewa dengan surel yang tak kau balas dan surat di hari pertamaku di event ini tak sampai padamu (karena formatnya berbeda dengan tahun lalu). Kali ini, aku akan menyalahi aturan format supaya suratku sampai padamu . Mungkin pemicu aku ingin menuliskan surat sekali lagi untukmu adalah no mention di linimasa yang sempat terjadi lagi di antara kita (semoga aku tak ke-pede-an dan tak kege-eran). No mention, salah satu ciri khas yang sampai saat ini masih kuingat dan masih kurasakan keasyikannya. Lini masa terasa berbeda dan menyenangkan. Mungkin sudah dua kali semenjak kita jarang berkomunikasi, no mention darimu (tapi no mention tidak berlaku untuk suratku yang satu ini). Salah satu no mentionmu sempat membuatku galau setengah mati , tapi ya… kau tak perlu mengerti dan tak perlu peduli. Biar aku rasakan sendiri. Terdengar berlebihan ya, namun bukannya aku berusaha melebih-lebihkan tapi memang ada perasaan mengenaimu yang sedikit lebih dari porsinya. Sudah aku usahakan sekeras mungkin untuk tak mengulangi kelebihan perasaan itu lagi.

Ah iya, ngomong-ngomong kau sudah move on dari “mantan terindah”mu? Maaf, lancang menanyakan ini. Lagipula pertanyaan itu hanya sekadar basa-basi yang pasti basi dan tak kupaksakan jawabannya. Semoga seseorang yang masih kau cintai itu memberikanmu banyak inspirasi bukan perasaan sedih. Kalau boleh lancang sekali lagi, aku ingin mengutarakan satu praduga atau mungkin firasat perihalmu. Aku berprasangka bahwa kelak yang akan menjadi pendamping hidupmu adalah salah satu dari anggota “geng”mu itu ha ha ha ha ha… bercanda. Tapi jikalau memang iya, semoga perempuan itu merupakan sosok perempuan yang tepat bagimu. Ah, Siapapun orangnya nanti yang akan bersamamu, aku berharap dia mampu membahagiakanmu pun sebaliknya kau terhadapnya. Sudahlah, surat ini rasa-rasanya memang tidak penting. Jadi tak perlu dilanjutkan lagi, maafkan aku atas kebodohan isi surat ini.


Hmmm… satu lagi, di beberapa waktu aku merindukanmu, sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik