Sidoarjo, 01.33
Selamat pagi, Gi.
Nampaknya memang belum
benar-benar pagi saat ini, tapi biarlah selamat pagi sebagai sapaan pembuka
bagi suratku yang ke sekian ini. Apa kabar? Sudah menambah berapa koleksi
(mendaki & berpuisi)? Buatku, kau selalu mengagumkan dengan dua hal itu.
Kau mengikuti event ini juga, kan? #30harimenulissuratcinta, dan surat ke-22
ini untukmu. Surat kedua untukmu di event ini. Suratku yang pertama pasti tak
kau baca, surat hari pertama yang sudah aku niatkan untukmu. Nampaknya sedikit
memalukan jika aku harus berulang kali mengirimimu surat, semoga kau tak
terganggu dengan hal ini.
Entah apa yang harus kusampaikan
lagi dalam surat untukmu ini, tapi aku hanya ingin menulisnya dan aku berharap
akan sampai kepadamu (pula kau membacanya). Setelah aku cukup kecewa dengan
surel yang tak kau balas dan surat di hari pertamaku di event ini tak sampai
padamu (karena formatnya berbeda dengan tahun lalu). Kali ini, aku akan
menyalahi aturan format supaya suratku sampai padamu . Mungkin pemicu aku ingin
menuliskan surat sekali lagi untukmu adalah no mention di linimasa yang sempat
terjadi lagi di antara kita (semoga aku tak ke-pede-an dan tak kege-eran). No
mention, salah satu ciri khas yang sampai saat ini masih kuingat dan masih
kurasakan keasyikannya. Lini masa terasa berbeda dan menyenangkan. Mungkin sudah
dua kali semenjak kita jarang berkomunikasi, no mention darimu (tapi no mention tidak berlaku untuk suratku yang satu ini). Salah satu no
mentionmu sempat membuatku galau setengah mati , tapi ya… kau tak perlu mengerti
dan tak perlu peduli. Biar aku rasakan sendiri. Terdengar berlebihan ya, namun
bukannya aku berusaha melebih-lebihkan tapi memang ada perasaan mengenaimu yang
sedikit lebih dari porsinya. Sudah aku usahakan sekeras mungkin untuk tak
mengulangi kelebihan perasaan itu lagi.
Ah iya, ngomong-ngomong kau sudah
move on dari “mantan terindah”mu? Maaf, lancang menanyakan ini. Lagipula
pertanyaan itu hanya sekadar basa-basi yang pasti basi dan tak kupaksakan
jawabannya. Semoga seseorang yang masih kau cintai itu memberikanmu banyak
inspirasi bukan perasaan sedih. Kalau boleh lancang sekali lagi, aku ingin
mengutarakan satu praduga atau mungkin firasat perihalmu. Aku berprasangka
bahwa kelak yang akan menjadi pendamping hidupmu adalah salah satu dari anggota
“geng”mu itu ha ha ha ha ha… bercanda. Tapi jikalau memang iya, semoga
perempuan itu merupakan sosok perempuan yang tepat bagimu. Ah, Siapapun
orangnya nanti yang akan bersamamu, aku berharap dia mampu membahagiakanmu pun
sebaliknya kau terhadapnya. Sudahlah, surat ini rasa-rasanya memang tidak
penting. Jadi tak perlu dilanjutkan lagi, maafkan aku atas kebodohan isi surat
ini.
Hmmm… satu lagi, di beberapa
waktu aku merindukanmu, sungguh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar