Sore ini, kau tampak begitu murung. Apakah kekecewaan
kembali merundung?
“Hhh... haruskah
aku bertemu dia?” Begitu gumaman darimu samar-samar kudengar.
Aku tak pernah
keberatan dijadikan pelampiasan atas amarah atau rasa kesalmu karena aku tahu
kau begitu menyukai bahkan fanatik
denganku, hampir seluruh benda di kamarmu selalu serupa
denganku; dari warna hingga bentuknya. Kau juga berujar bahwa akulah
satu-satunya hal yang membuatmu kembali merasa tenang, bahkan kau seringkali
menggigitku dengan begitu nafsunya untuk meluapkan emosi; aku akan diam saja. Tapi siapakah yang akan kautemui?
Belum terjawab
pertanyaanku seseorang menghampirimu dengan membawa bingkisan, “Hai, Mir. Apa
kabar? Ini oleh-oleh untukmu dari Swiss.” Kau menerima dengan tersenyum,
membuka bingkisannya dan memakan isinya yang berbentuk bulat secuil. “Cokelat
dari Swiss memang en...” Kata-katamu terputus dan kau tak pernah bangun dari
pingsan yang tiba-tiba itu.
Oh tidak! Mirna, apakah aku telah membunuhmu? Seketika aku merasa begitu panik sekaligus sedih luar biasa.
wah... ceritanya kekinian nih :D
BalasHapus