Minggu, 31 Januari 2016

Apakah Aku Membunuhmu, Mirna?

Sore ini, kau tampak begitu murung. Apakah kekecewaan kembali merundung? 

“Hhh... haruskah aku bertemu dia?” Begitu gumaman darimu samar-samar kudengar.
Aku tak pernah keberatan dijadikan pelampiasan atas amarah atau rasa kesalmu karena aku tahu kau begitu menyukai bahkan fanatik denganku, hampir seluruh benda di kamarmu selalu serupa denganku; dari warna hingga bentuknya. Kau juga berujar bahwa akulah satu-satunya hal yang membuatmu kembali merasa tenang, bahkan kau seringkali menggigitku dengan begitu nafsunya untuk meluapkan emosi; aku akan diam saja. Tapi siapakah yang akan kautemui?
 
Belum terjawab pertanyaanku seseorang menghampirimu dengan membawa bingkisan, “Hai, Mir. Apa kabar? Ini oleh-oleh untukmu dari Swiss.” Kau menerima dengan tersenyum, membuka bingkisannya dan memakan isinya yang berbentuk bulat secuil. “Cokelat dari Swiss memang en...” Kata-katamu terputus dan kau tak pernah bangun dari pingsan yang tiba-tiba itu.

Oh tidak! Mirna, apakah aku telah membunuhmu? Seketika aku merasa begitu panik sekaligus sedih luar biasa.

1 komentar:

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik