Haruskah
surat pertama ini aku tujukan padamu?
Begitulah benakku
berkata ketika aku teringat hari ini adalah kewajibanku menulis sebuah surat
yang akan berlanjut 29 hari ke depan. Sudah lewat larut malam dan aku masih
sama seperti yang mungkin kau tahu; insomnia. Aku menulis surat ini dengan
mendengarkan soundtrack-soundtrack dari drama korea “Love Rain”, sebab aku
ingin membangkitkan apa-apa yang bisa mengingatkanku tentangmu; sekalipun aku
belum pernah menemuimu pun sebaliknya. Dan, tepat pukul 01.08 WIB aku akhirnya
memutuskan untuk menuliskan surat pertama ini untukmu. Maka, aku akan
menceritakan beberapa hal kepadamu—mungkin cerita-cerita ini juga seperti
keping-keping kejujuran dari perasaanku;
1. Kepribadianmu masih seperti teka-teki untukku dan aku begitu khawatir
jika satu demi satu teka-teki itu terjawab, aku akan menjadi seorang gadis yang
semakin jadi penakut. Bukan karena trauma, tapi lebih kepada rasa cemas jika
aku ternyata tak mampu menerima kau sebagaimana dirimu memang memiliki karakter
seperti itu,
2. Malam ini, sepertinya
harapan itu kembali kubangun—entah harapan macam apa. Hanya saja, aku sadar
bahwa beberapa waktu kita sempat seperti sama-sama menyerah—oh, atau ternyata
hanya aku saja?—namun, ketika aku berkata padamu bahwa aku sudah terbiasa
menunggu tapi bukan untuk waktu yang terlalu lama karena aku sering amnesia
lalu kau berujar, “Aku harus ke Surabaya, menyelamatkan ingatannya.” Kau tahu,
rasanya seperti ada bunga mawar merah yang tiba-tiba mekar dalam hatiku.
Tapi... kemudian aku kembali sadar bahwa aku tak boleh terlampau tinggi
berharap,
3. Aku punya alasan
mengapa dulu aku sempat tak lagi menghubungimu dan sering membuat tweet sajak
bahwa kita sudah berakhir sebelum memulai, tapi aku tak akan memaparkannya di
surat ini sebab aku hanya akan memberitahumu ketika waktu memberi kesempatan
lain yang lebih pas. Aku tak tahu apakah alasan ini sudah kauduga sebelumnya
atau belum, tapi kelak akan kuceritakan padamu juga,
4. Aku sering cemburu
ketika kau menceritakan tentang satu perempuan yang katamu adalah seorang teman
yang baik hati. Sebab, beberapa sajak atau puisimu sering menyebut namanya dan
dengan tahu diri aku akan tetap berhasil sadar bahwa aku memang belum berhak
mempunyai perasaan cemburu semacam itu,
5. Aku senang membaca
ramalan bintang tapi aku tak pernah sepenuhnya percaya, hanya saja karena kau
seorang Libra, entah mengapa aku selalu merasa tak begitu cocok dengan spesies
bintang satu ini. Beberapa kali pula, percakapanku denganmu di bbm, wasap,
hingga line membuatku kesal luar biasa. Semoga kau bukan benar-benar menjadi
orang yang menyebalkan seperti yang kupikirkan selama ini,
6. Semoga kau,
bukan termasuk laki-laki yang tak bernyali untuk melakukan hal-hal yang memang
sepatutnya diperjuangkan. Sebab aku telah banyak menemui laki-laki semacam ini
dan sangat tak segan-segan untuk lekas pergi,
7. Tentang jarak dan kerinduan, mereka menjalin hubungan yang begitu erat tetapi aku tak pernah suka dengan jarak apalagi yang jauh sebab aku bukan perempuan yang pandai merawat rindu begitu lama,
Sebenarnya masih
banyak hal yang ingin kuungkapkan tapi cukuplah enam lebih dulu. Ah iya, apakah
buku Memorabilia Melankolia sudah kaubaca? Aku tak pernah kaukabari bagaimana
nasib buku yang kukirimkan itu setelah sampai di tanganmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar