Minggu, 31 Januari 2016

Tentang 8 Hal Pertama

Haruskah surat pertama ini aku tujukan padamu?

Begitulah benakku berkata ketika aku teringat hari ini adalah kewajibanku menulis sebuah surat yang akan berlanjut 29 hari ke depan. Sudah lewat larut malam dan aku masih sama seperti yang mungkin kau tahu; insomnia. Aku menulis surat ini dengan mendengarkan soundtrack-soundtrack dari drama korea “Love Rain”, sebab aku ingin membangkitkan apa-apa yang bisa mengingatkanku tentangmu; sekalipun aku belum pernah menemuimu pun sebaliknya. Dan, tepat pukul 01.08 WIB aku akhirnya memutuskan untuk menuliskan surat pertama ini untukmu. Maka, aku akan menceritakan beberapa hal kepadamu—mungkin cerita-cerita ini juga seperti keping-keping kejujuran dari perasaanku;

1. Kepribadianmu masih seperti teka-teki untukku dan aku begitu khawatir jika satu demi satu teka-teki itu terjawab, aku akan menjadi seorang gadis yang semakin jadi penakut. Bukan karena trauma, tapi lebih kepada rasa cemas jika aku ternyata tak mampu menerima kau sebagaimana dirimu memang memiliki karakter seperti itu,

2. Malam ini, sepertinya harapan itu kembali kubangun—entah harapan macam apa. Hanya saja, aku sadar bahwa beberapa waktu kita sempat seperti sama-sama menyerah—oh, atau ternyata hanya aku saja?—namun, ketika aku berkata padamu bahwa aku sudah terbiasa menunggu tapi bukan untuk waktu yang terlalu lama karena aku sering amnesia lalu kau berujar, “Aku harus ke Surabaya, menyelamatkan ingatannya.” Kau tahu, rasanya seperti ada bunga mawar merah yang tiba-tiba mekar dalam hatiku. Tapi... kemudian aku kembali sadar bahwa aku tak boleh terlampau tinggi berharap,

3. Aku punya alasan mengapa dulu aku sempat tak lagi menghubungimu dan sering membuat tweet sajak bahwa kita sudah berakhir sebelum memulai, tapi aku tak akan memaparkannya di surat ini sebab aku hanya akan memberitahumu ketika waktu memberi kesempatan lain yang lebih pas. Aku tak tahu apakah alasan ini sudah kauduga sebelumnya atau belum, tapi kelak akan kuceritakan padamu juga,

4. Aku sering cemburu ketika kau menceritakan tentang satu perempuan yang katamu adalah seorang teman yang baik hati. Sebab, beberapa sajak atau puisimu sering menyebut namanya dan dengan tahu diri aku akan tetap berhasil sadar bahwa aku memang belum berhak mempunyai perasaan cemburu semacam itu,

5. Aku senang membaca ramalan bintang tapi aku tak pernah sepenuhnya percaya, hanya saja karena kau seorang Libra, entah mengapa aku selalu merasa tak begitu cocok dengan spesies bintang satu ini. Beberapa kali pula, percakapanku denganmu di bbm, wasap, hingga line membuatku kesal luar biasa. Semoga kau bukan benar-benar menjadi orang yang menyebalkan seperti yang kupikirkan selama ini,

6. Semoga kau, bukan termasuk laki-laki yang tak bernyali untuk melakukan hal-hal yang memang sepatutnya diperjuangkan. Sebab aku telah banyak menemui laki-laki semacam ini dan sangat tak segan-segan untuk lekas pergi,

7.  Tentang jarak dan kerinduan, mereka menjalin hubungan yang begitu erat tetapi aku tak pernah suka dengan jarak apalagi yang jauh sebab aku bukan perempuan yang pandai merawat rindu begitu lama,

8. Oh iya satu lagi, terima kasih sudah menjadi perpustakaan lagu-lagu keren untukku ^_^

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kuungkapkan tapi cukuplah enam lebih dulu. Ah iya, apakah buku Memorabilia Melankolia sudah kaubaca? Aku tak pernah kaukabari bagaimana nasib buku yang kukirimkan itu setelah sampai di tanganmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik