Senin, 01 Februari 2016

Lagu-Lagu Poppy Mercury




Hati siapa tak luka dan takkan kecewa bila cintanya berakhir duka
Apa hendak dikata, padi kutanam tumbuh ilalang…
Hatiku telah patah dan menjadi luka, korban dari keangkuhan cinta
Ingin kuraih pulang, apalah daya tangan tak sampai…

Tidak ada yang diragukan lagi dari puitis-puitisnya lirik lagu-lagu nostalgia, hari ini entah kenapa aku memutar semua playlist lagu milik Poppy Mercury. Lagu-lagu yang sering diputar oleh Ayah dan Ibu ketika di mobil. Seperti cuplikan lagu di atas, rasanya seperti terwakili. Surat-surat yang sudah kuniatkan dari awal untuk satu pengirim saja, akhirnya kutumbangkan juga. Memang, tidak ada yang lebih senang berubah kecuali suasana hati seorang perempuan. Patah hati, nyatanya tak selalu harus memiliki hubungan secara jelas (red. Pacaran). Beberapa hal bisa saja menjadi penyebab atau alasan untuk merasa patah hati.


Asmara yang kita idamkan ini dibayangi suasana suram
Mahligai indah yang telah kaubina tak tercapai oleh tanganku

Terngiang lagi cuplikan lagu milik Poppy Mercury, lirik itu pun rasanya seperti menjadi perwakilan apa yang sedang terjadi saat ini di dunia percintaanku. Suasana suram itu adalah keraguan—mungkin—karena begitulah kemarin dia menyebutnya di sebuah suat dan memang sangat jelas, aku tak pernah bisa mencapai pikiran laki-laki—apalagi miliknya. Tapi tidak semua kekurangan menyebalkan, karena di surat yang kusimpan untuknya sebelum surat ini menggambarkan bahwa apa yang kuanggap aneh tak selamanya tak kusukai dan surat itu takkan pernah sampai dibaca oleh penerimanya. Namun biarlah, aku bisa menjadi sesorang yang cepat melupa meskipun hanya sementara.
Lagu-lagu nostalgia milik Poppy Mercury banyak mewakili segala jenis kesedihan dan kegalauan dalam hubungan percintaan, lagu-lagu ini bukan hanya kali ini saja kuputar ketika merasa begitu patah hati tapi sudah beberapa cerita cinta yang gagal terdahulu. Kadang merasa ingin menyerah saja terhadap sebuah hubungan yang melibatkan perasaan perempuan dan logika laki-laki. Entah kapan aku menemui yang memang benar-benar berjodoh denganku, sudah terlampau banyak yang datang kemudian pergi.

Andaikan hati, tiada saling percaya percuma cinta dibina
Manalah mungkin kasih jalin asmara bila kaudustai cinta…
Cukuplah kumerasa duka selama ini, yang hampir saja menghapus rasa percaya diri
Biarkan kupergi membawa duka ini jauh darimu
Oh, biar…
Biarkan kulari, mengejar masa depan yang tiada pernah pasti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik