Senin, 08 Februari 2016

Di Sebuah Kedai Kopi


Di kedai kopi itu aku merenung, dengan hujan yang turun deras di luar sana, dengan sepasang kekasih bermesraan dengan aku yang mencuri pandang seorang diri, ternyata merasa sepi tak harus sedang sendiri.

Malam itu, aku ingin memesan kopi dengan gula yang banyak biar pahit hanya sebagai mitos belaka. Tapi seperti kata pujangga bahwa kita tak dapat membohongi rasa pahit kopi karena kopi tetaplah menyimpan rasa pahit sekalipun kau meraciknya agar terasa manis. Seperti aku yang tak bisa membohongi kerinduanku pada waktu-waktu di mana aku sedang bersamamu, bersama laki-laki yang sempat menyatakan cinta atau sayang padaku. Aku ingin mengulangnya kembali atau jika tak bisa aku perlu untuk membuat kisah cinta baru lagi. Setidaknya ada yang tetap membuat taman asmaraku tetap tumbuh bunganya, biar gersang tak datang. Tapi apalah luka, sering membuatku menunda untuk membuka hati dan sekali lagi mencoba. Perasaan memang kerap beralih, tapi ada beberapa rasa yang tetap tinggal.
Seperti kedai kopi yang menjadi tempat baru bagiku, meskipun aku rindu meminum kopi di kedai kopi yang sering kukunjungi. Aku mencoba membuat suasana baru, bukan sekadar untuk memenuhi hasrat untuk check in lokasi di sosial media. Sebab, tempat-tempat baru begitu membuat penasaran, apakah aku akan mendapatkan rasa senang atau sebaliknya? Kali ini, aku mendapati suasana yang cukup aneh yaitu keinginan merenungi hujan. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat pintu masuk kedai yang terbuka lebar dan runtuhnya hujan juga jelas mampu kulihat. Sembari menunggu pesanan datang, aku membayangkan tentang kehujanan yang tak sendirian, aku membayangkan cokelat panas setelah kehujanan, aku memabayangkan kau yang tiba-tiba muncul menujuku, aku membayangkan kedai kopi dan kau yang berada di depanku sambil tersenyum memandangi aku yang merenungi jatuhnya hujan. Sebenarnya, daridulu aku tak begitu menyukai hujan juga musimnya. Entah karena apa, tapi malam ini ada suasana lain yang ditimbulkan oleh turunnya hujan di malam tahun baru imlek.

Semoga, kedai-kedai kopi selanjutnya kau tak akan tinggal diam untuk mengizinkanku pergi sendiri dan lekas-lekas kautemani. Wahai kau, seseorang yang akan melengkapiku nanti; jodoh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik