Aku sudah lama tak berteman dengan pagi, semenjak malam
terlalu ingin menjagaku dari rasa kantuk dan mengkhianati pagi untuk tak lagi
menemuinya.
Hai, Di…
Aku masih penasaran dengan sepotong pagi yang kauberikan
untukku, apa alasannya kau memilih pagi? Sebab aku tahu kau paham bagaimana aku
tak lagi memiliki pagiku sendiri semenjak lelap baru kujelang setelah subuh
datang. Begini kaumenuliskannya untukku;
Dari yang pernah kau yakini
Yang menyimpan senyummu,
Sajak yang manis disertai watercolor dan ada tulisan namaku
di sana, aku sangat terkesan. Sekalipun pasti orang lain hanya menganggapnya “hanya
begitu saja” tapi aku menganggapnya hadiah sederhana yang begitu istimewa;
sebab darimu. Namun masih banyak hal-hal yang masih sulit untukku mengerti
tentangmu, maka kapan kita bertemu? Meluangkan banyak waktu untuk sekadar
bercakap-cakap demi mengenal diri masing-masing. Aku masih menunggumu di kotaku,
dengan harapan yang sudah kunantikan sejak pertama kali aku jatuh cinta padamu.
Jatuh cinta dengan sajak-sajak yang selalu memenangkan kekagumanku. Kau
mengabarkan padaku untuk segera menemuiku, debar-debar di dadaku sudah berulang
kali riuh lebih dulu hanya karena mendengar niatmu bertamu. Tapi kau tak pernah
memberitahuku kapan tepatnya kau akan datang, itu lebih membuatku penasaran,
cemas, dan resah yang berlebihan. Jujur, sekalipun aku menantimu sesabar ini,
aku juga takut dengan hal-hal lain yang akan ditimbulkan perasaanku yang begitu
mudah berubahnya. Namun kau jangan khawatir dengan itu, selama di kotaku nanti,
aku akan berusaha menjadi tuan rumah yang bertanggung jawab.
Terima kasih untuk sepotong pagi yang kaubingkiskan untukku,
Di. Kau masih kunanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar