Selasa, 09 Februari 2016

Sepotong Pagi dari Di

Aku sudah lama tak berteman dengan pagi, semenjak malam terlalu ingin menjagaku dari rasa kantuk dan mengkhianati pagi untuk tak lagi menemuinya.

Hai, Di…

Aku masih penasaran dengan sepotong pagi yang kauberikan untukku, apa alasannya kau memilih pagi? Sebab aku tahu kau paham bagaimana aku tak lagi memiliki pagiku sendiri semenjak lelap baru kujelang setelah subuh datang. Begini kaumenuliskannya untukku;

Dari yang pernah kau yakini
Yang menyimpan senyummu,
Hanyalah sebuah pagi.

Sajak yang manis disertai watercolor dan ada tulisan namaku di sana, aku sangat terkesan. Sekalipun pasti orang lain hanya menganggapnya “hanya begitu saja” tapi aku menganggapnya hadiah sederhana yang begitu istimewa; sebab darimu. Namun masih banyak hal-hal yang masih sulit untukku mengerti tentangmu, maka kapan kita bertemu? Meluangkan banyak waktu untuk sekadar bercakap-cakap demi mengenal diri masing-masing. Aku masih menunggumu di kotaku, dengan harapan yang sudah kunantikan sejak pertama kali aku jatuh cinta padamu. Jatuh cinta dengan sajak-sajak yang selalu memenangkan kekagumanku. Kau mengabarkan padaku untuk segera menemuiku, debar-debar di dadaku sudah berulang kali riuh lebih dulu hanya karena mendengar niatmu bertamu. Tapi kau tak pernah memberitahuku kapan tepatnya kau akan datang, itu lebih membuatku penasaran, cemas, dan resah yang berlebihan. Jujur, sekalipun aku menantimu sesabar ini, aku juga takut dengan hal-hal lain yang akan ditimbulkan perasaanku yang begitu mudah berubahnya. Namun kau jangan khawatir dengan itu, selama di kotaku nanti, aku akan berusaha menjadi tuan rumah yang bertanggung jawab.

Terima kasih untuk sepotong pagi yang kaubingkiskan untukku, Di. Kau masih kunanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik