Untuk gerbong-gerbong yang membawa tubuhmu kembali pulang.
Aku tak suka sore hari berada di stasiun kereta api, menyaksikan
langkah-langkah yang meninggalkan; termasuk langkah milikmu. Semampu-mampunya
aku menahan kesedihan jatuh dari pelupuk mata dan kuganti dengan bibir yang
lebih sering memanipulasi senyuman sekaligus menanyakan hal-hal tak penting
kepadamu. Biar saja, kau hanya mengetahui bahwa aku seseorang yang mampu
menampung rindunya yang akan dimulai saat keretamu hilang dari pandangan. Aku
lupa pukul berapa tepatnya jadwal keberangkatanmu, aku hanya ingat setelah itu
aku melangkah cepat-cepat keluar dari pintu masuk stasiun, terduduk di bawah
pohon, dan menangis.
Aku mengerti kepergianmu yang untuk pulang itu, tak akan
kembali membawamu ke sini; ke kotaku. Sebab sampai sanalah, kisah kita
diakhiri. Jika kau membaca surat ini, semoga masing-masing dari kita telah
berbahagia dengan langkahnya masing-masing sebab aku tahu langkah kepergianmu
pasti memiliki alasan dan tujuan yang tak menujuku. Tapi sebisa mungkin aku
menerimanya, rela atas apa-apa yang sempat kumiliki meski hanya sekilas.
Setelah petang jatuh hari itu, aku pergi ke kedai kopi. Tidak, aku tidak
menangis hanya lebih sering melamun. Perlahan-lahan aku nikmati kopi yang
kupesan, perlahan-lahan pula aku minum gelas demi gelas perasaan yang mulai
runtuh kekuatannya. Aku ingin melupakanmu saat itu juga, bersama semua
kenangannya. Tapi, mana ada kenangan yang tak bertahan lama di hatiku meskipun
di kepala telah renta. Setiap kenangan pasti jadi purba tapi tidak rasanya.
Sejak saat itu, jika cinta juga demikian mudahnya menjadi benci. Aku membenci
hari di mana kau bersikeras menemuiku di kotaku. Aku benci hari di saat aku menjemputmu
di stasiun kereta. Aku benci tawa kita.
Dan, sampai saat ini semua yang pernah aku lalui bersamamu
hanya menjadi benci yang tak ingin kuulangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar