Kamis, 11 Februari 2016

Yang Membawamu Pulang, Mengakhiri Kita

Untuk gerbong-gerbong yang membawa tubuhmu kembali pulang.

Aku tak suka sore hari berada di stasiun kereta api, menyaksikan langkah-langkah yang meninggalkan; termasuk langkah milikmu. Semampu-mampunya aku menahan kesedihan jatuh dari pelupuk mata dan kuganti dengan bibir yang lebih sering memanipulasi senyuman sekaligus menanyakan hal-hal tak penting kepadamu. Biar saja, kau hanya mengetahui bahwa aku seseorang yang mampu menampung rindunya yang akan dimulai saat keretamu hilang dari pandangan. Aku lupa pukul berapa tepatnya jadwal keberangkatanmu, aku hanya ingat setelah itu aku melangkah cepat-cepat keluar dari pintu masuk stasiun, terduduk di bawah pohon, dan menangis.
Aku mengerti kepergianmu yang untuk pulang itu, tak akan kembali membawamu ke sini; ke kotaku. Sebab sampai sanalah, kisah kita diakhiri. Jika kau membaca surat ini, semoga masing-masing dari kita telah berbahagia dengan langkahnya masing-masing sebab aku tahu langkah kepergianmu pasti memiliki alasan dan tujuan yang tak menujuku. Tapi sebisa mungkin aku menerimanya, rela atas apa-apa yang sempat kumiliki meski hanya sekilas. Setelah petang jatuh hari itu, aku pergi ke kedai kopi. Tidak, aku tidak menangis hanya lebih sering melamun. Perlahan-lahan aku nikmati kopi yang kupesan, perlahan-lahan pula aku minum gelas demi gelas perasaan yang mulai runtuh kekuatannya. Aku ingin melupakanmu saat itu juga, bersama semua kenangannya. Tapi, mana ada kenangan yang tak bertahan lama di hatiku meskipun di kepala telah renta. Setiap kenangan pasti jadi purba tapi tidak rasanya. Sejak saat itu, jika cinta juga demikian mudahnya menjadi benci. Aku membenci hari di mana kau bersikeras menemuiku di kotaku. Aku benci hari di saat aku menjemputmu di stasiun kereta. Aku benci tawa kita.


Dan, sampai saat ini semua yang pernah aku lalui bersamamu hanya menjadi benci yang tak ingin kuulangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik