Malam itu, ketika kesendirianku telah lebih larut dari pukul
dua belas, kau tiba-tiba hadir
Selain berdebar, harapan yang perlahan kuruntuhkan hari demi
hari mulai kubangun sendiri batu batanya satu-satu lagi. Harusnya aku tak
semudah ini membuka pintu ketika kauketuk. Bukankah tak sopan jika bertamu
selarut ini? Tapi, biarlah aku menjadi tuan rumah yang tak menolak secara kasar
kepada tamunya, aku suguhkan teh panas tanpa gula seperti yang kau gemari
selama ini. Tapi dalam hati, aku berusaha untuk melindungi diriku sendiri agar
tak terbuai dengan kehadiranmu. Sekalipun aku ingin beruntun menanyakan dengan
amarah, “Ke mana saja kau selama ini? Apa yang kauinginkan dariku sehingga kau
kembali lagi? Haruskah aku menerimamu kembali untuk sekali lagi menunggu yang
tak pasti? Bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku? Sebenarnya apa yang
kauinginkan dari kita?”
Ingin kutanyakan semua tepat di depan sepasang matamu, tepat
di hadapanmu yang dulu pernah kusukai, yang dulu pernah menjatuhkan segala
gengsi. Kau seperti cermin, tapi untuk mencerminkan pelbagai keburukan. Kita
sama, memang. Hanya saja sifat-sifat negatif yang lebih dominan.
“Apa-apa yang didapatkan dengan mudah, biasanya akan dengan
mudah pula pergi.” Aku pernah berkata demikian kepadamu, dan kau berkata, “Kata
siapa? Lagipula kita juga kenal sudah hampir tiga tahun meskipun belum pernah
bertemu sebelum sekarang ini, lama kan? Kemudian aku tersenyum malu, da nada perasaan-perasaan
aneh mulai tumbuh.
Tapi, cukup. Akan kututup pintu hati, aku telah membulatkan
keputusan kali ini. Silakan langkahkan kaki, pergilah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar