Hai, Kak Paay…
Di surat keempat kali ini aku
mengabulkan keinginanmu, sebuah surat cinta kukirimkan melalui
#30HariMenulisSuratCinta. Tapi surat cinta ini hanya sekadarnya saja, surat
cinta yang harusnya tak kubuat-buat, seperti sebuah kejujuran seorang perempuan
yang sedang cinta-cintanya. Maka, begitulah nanti kalimat-kalimat suratku
berbunyi…
Hari itu, entah kapan. Mungkin
aku lupa pun kau. Namu aku masih mengingat percakapan kita di direct message
twitter, kau menawariku untuk mengikuti antologi puisi yang sedang digelar
Malam Puisi Depok. Aku merasa terhormat saat itu, tapi jika aku boleh jujur,
betapa aku patah hati setelah bukunya telah sampai di genggam jemari. Bukan
karena packing bukunya yang tak bagus, atau isinya yang tak sesuai, tapi kritik
yang ditulis oleh seseorang untuk puisiku. Bukan apa-apa, tapi aku ingat aku
mengirim beberapa puisi dan mungkin akan terselamatkan dari komentar tajam itu
jika puisiku yang lain yang dipilih, aku pun tak tahu siapa yang memilih puisi
itu untuk dimasukkan ke dalam buku antologi. Aku sudah lama menanti buku
tersebut terbit dan sempat kutanyakan berkali-kali, sebab itulah aku tak ingin
terlarut patah hati hanya karena sebuah masukan yang harusnya membangunku ke
depan. Setelah patah hati itu, aku tetap sangat berapresiasi dengan buku yang
begitu epiknya dengan memostingnya di instagram. Setelah satu curhat ini, kau
masih percaya jika puisi-puisiku sebagus yang kaupikirkankah kak Paay?
Maafkan, paragraf pertama surat
ini yang tak mengenakkan hati. Mungkin paragraf selanjutnya juga tak akan enak
dibaca, sepertinya surat cinta ini menjadi ajang curhat tak terkira. Taka pa ya?
Jangan kecewa. Apakah dikirimi surat cinta begitu menyenangkan kak Paay? Aku
rasa iya, karena sekalipun surat itu tak berisi puisi-puisi atau rayu-rayu,
kita akan tetap merasa senang karena kekhususan ke mana surat itu dituju.
Semoga kaupun merasa begitu, senang membaca suratku yang hanya curhat ini.
Kak Paay, sebenarnya aku selalu
penasaran dengan akun-akun di twitter tak terkecuali akunmu. Rasanya, aku ingin
mengenal satu per satu akun yang sebagian bukan nama asli itu. Jadi, nama
aslimu siapa kak? Akunmu bukan alter, kan? Ahahaha. Aku termasuk orang yang
terbuka, kak. Bukan seseorang yang pandai menjaga rahasia, barangkali kamu
ahlinya. Hmm, setiap yang mengirimkan pesan lewat DM aku selalu ingin mereka
lebih jauh, termasuk Kak Paay. Aku ingin tahu Kak Paay yang sebenarnya seperti
apa? Berdomisili di mana? Usianya berapa tahun? Sedang sibuk apa? Sudah punya
pacarkah? Ikut dalam komunitas sastra apa saja? Suka buku apa? Dan, banyak hal
lain yang ingin kutanyakan. Seperti seorang pacar yang selalu ingin tahu
bagaimana identitas pasangannya sedetail-detailnya. Jadi, aku rasa pertemanan
kita ini akan jadi seru jika terus saling berkomunikasi dan terbuka. Sekalipun
aku tetap was-was menjalin hubungan apa pun di media sosial tapi aku percaya
Kak Paay termasuk seseorang yang baik hati.
Sudah ya kak, semoga usahaku
mengabulkan keinginannya Kak Paay untuk mendapatkan surat cinta cukup kupenuhi.
Maafkan segala isi suratnya yang tak begitu penting.
Salam,
Rena ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar