Kamis, 04 Februari 2016

Surat Cinta yang Mungkin Bukan Berisi Cinta

Hai, Kak Paay…

Di surat keempat kali ini aku mengabulkan keinginanmu, sebuah surat cinta kukirimkan melalui #30HariMenulisSuratCinta. Tapi surat cinta ini hanya sekadarnya saja, surat cinta yang harusnya tak kubuat-buat, seperti sebuah kejujuran seorang perempuan yang sedang cinta-cintanya. Maka, begitulah nanti kalimat-kalimat suratku berbunyi…

Hari itu, entah kapan. Mungkin aku lupa pun kau. Namu aku masih mengingat percakapan kita di direct message twitter, kau menawariku untuk mengikuti antologi puisi yang sedang digelar Malam Puisi Depok. Aku merasa terhormat saat itu, tapi jika aku boleh jujur, betapa aku patah hati setelah bukunya telah sampai di genggam jemari. Bukan karena packing bukunya yang tak bagus, atau isinya yang tak sesuai, tapi kritik yang ditulis oleh seseorang untuk puisiku. Bukan apa-apa, tapi aku ingat aku mengirim beberapa puisi dan mungkin akan terselamatkan dari komentar tajam itu jika puisiku yang lain yang dipilih, aku pun tak tahu siapa yang memilih puisi itu untuk dimasukkan ke dalam buku antologi. Aku sudah lama menanti buku tersebut terbit dan sempat kutanyakan berkali-kali, sebab itulah aku tak ingin terlarut patah hati hanya karena sebuah masukan yang harusnya membangunku ke depan. Setelah patah hati itu, aku tetap sangat berapresiasi dengan buku yang begitu epiknya dengan memostingnya di instagram. Setelah satu curhat ini, kau masih percaya jika puisi-puisiku sebagus yang kaupikirkankah kak Paay?
Maafkan, paragraf pertama surat ini yang tak mengenakkan hati. Mungkin paragraf selanjutnya juga tak akan enak dibaca, sepertinya surat cinta ini menjadi ajang curhat tak terkira. Taka pa ya? Jangan kecewa. Apakah dikirimi surat cinta begitu menyenangkan kak Paay? Aku rasa iya, karena sekalipun surat itu tak berisi puisi-puisi atau rayu-rayu, kita akan tetap merasa senang karena kekhususan ke mana surat itu dituju. Semoga kaupun merasa begitu, senang membaca suratku yang hanya curhat ini.
Kak Paay, sebenarnya aku selalu penasaran dengan akun-akun di twitter tak terkecuali akunmu. Rasanya, aku ingin mengenal satu per satu akun yang sebagian bukan nama asli itu. Jadi, nama aslimu siapa kak? Akunmu bukan alter, kan? Ahahaha. Aku termasuk orang yang terbuka, kak. Bukan seseorang yang pandai menjaga rahasia, barangkali kamu ahlinya. Hmm, setiap yang mengirimkan pesan lewat DM aku selalu ingin mereka lebih jauh, termasuk Kak Paay. Aku ingin tahu Kak Paay yang sebenarnya seperti apa? Berdomisili di mana? Usianya berapa tahun? Sedang sibuk apa? Sudah punya pacarkah? Ikut dalam komunitas sastra apa saja? Suka buku apa? Dan, banyak hal lain yang ingin kutanyakan. Seperti seorang pacar yang selalu ingin tahu bagaimana identitas pasangannya sedetail-detailnya. Jadi, aku rasa pertemanan kita ini akan jadi seru jika terus saling berkomunikasi dan terbuka. Sekalipun aku tetap was-was menjalin hubungan apa pun di media sosial tapi aku percaya Kak Paay termasuk seseorang yang baik hati.

Sudah ya kak, semoga usahaku mengabulkan keinginannya Kak Paay untuk mendapatkan surat cinta cukup kupenuhi. Maafkan segala isi suratnya yang tak begitu penting.

Salam,

Rena ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik