Aku tak bisa menahan diri untuk tak menulis surat ini
untukmu. Ya, surat kedua.
There’s loving in your eyes
That pulls me closer
It’s so subtle, I’m in trouble
But I’d love to be in trouble with you
Ya, sama seperti matamu yang kukagumi itu. Barangkali ada cinta di dalamnya ketika aku berkesempatan melihatnya secara langsung. Aku sudah terperosok pada kesulitan oleh sebabmu, tapi aku menyukainya. Menyukai bagaimana sulitnya kembali jatuh hati pada seseorang yang jauh dan belum tentu sama memiliki perasaan sepertiku. Namun semua ini begitu menyenangkan meskipun seringkali mengecewakan.
Begitula aku membatin tiap kali mendengar bagian lirik itu. Seharian
ini aku tak henti-hentinya memutar nyanyian Charlie Puth ft. Meghan Trainor,
hal ini sama seperti lagu berjudul Two is Better Than One yang pernah
kaukirimkan. Entahlah… aku selalu mengingatmu ketika mendengar dua lagu itu dan
sekarang lagu Marvin Gaye yang menjadi primadona di playlistku. Let’s Marvin Gaye and get in on. You got the
healing that I want, just like they say it in the song until the dawn. Let’s
Marvin Gaye and get in on. Tapi sejujurnya aku tak begitu tahu maksud
keseluruhan lagu ini, meskipun ada bagian-bagian lirik tertentu yang aku
mengerti. Bisakah kau menjelaskannya?
Nyatanya, bukan hanya lagu Marvin Gaye saja yang menjadi
teman bagi aktivitasku hari ini tapi juga tentang kau. Entah apa saja itu, yang
jelas semua subjeknya adalah kau. Aku kira bisa bertahan untuk membiarkan
kelebat-kelebat pikiran tentangmu itu tapi lagu-lagu yang kaukirimkan itu turut
andil menghasutku untuk sekali lagi luluh, jatuh. Atau mungkin karena
kesendirianku hari ini, kalau boleh bercerita aku sudah memulai keluar dari
zona nyaman bersantai-santai karena harus lekas menyelesaikan skripsi. Hari ini
aku berkunjung ke perpustakaan universitas seorang diri, ternyata pergi sendiri
di antara orang-orang lain yang bersama temannya cukup membuatku frustasi.
Aku senang kaudengarkan ceritanya, kau sebut aku seseorang
yang suka menceritakan banyak hal bukan? Padahal aku tak secerewet seperti di
tulisan-tulisan. Dan jujur, aku merindukan kau yang chat-chatnya biasa saja,
yang sering membuatku sebal karena balasan yang singkat, yang suka membuat pertanyaan
dengan jawaban lelucon begitu garingnya, yang… ah, apa pun itu aku
merindukannya.
And when you leave me all alone
I’m like a stray without a home
I’m like a dog without a bone
I just want you for my own
Tidak ada komentar:
Posting Komentar