Hai kak, apa kabar?
Sudah lama kita tak pernah chat lagi di line, sebenarnya aku
cukup merindukan hal itu. Sekalipun yang kita bicarakan hanya hal-hal biasa,
meskipun kita belum pernah bertemu sebelumnya. Jujur, aku sedikit merasa bahwa
aku hanya seseorang yang mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting.
Maafkan ya kak… Eh, ngomong-ngomong aku suka dengan namamu Kak, Insan Restu.
Unik tapi sepertinya begitu syarat makna.
Di surat ini, di event 30 hari menulis surat cinta untuk
satu hari aku ingin mengirimkan surat kepadamu. Bukan untuk apa-apa, aku hanya
ingin sebelum niatku ini diembuskan angin. Aku cukup terkesan ketika kak Insan
sering merepost sajak-sajak atau puisi-puisi, aku pikir laki-laki seperti Kak
Insan tak begitu menyukai hal-hal puitis. Apalagi kakak juga sering meretweet
cuitanku di twitter. Boleh aku tahu apa alasannya?
Ah, iya. Aku boleh curhat tentang skripsi ya. Sekarang aku sudah
menginjak semester delapan, sudah saatnya menyusun skripsi dengan lebih serius.
Aku sudah mencoba untuk menyusunnya dari semester tujuh karena aku sempat
berpikiran untuk lulus tiga setengah tahun, tapi sepertinya hal itu telah
pupus. Aku sering terbebani dengan keinginan orang tua yang menginginkan aku
lekas lulus, tapi aku sendiri seperti masih belum sanggup. Akhir-akhir ini aku
juga merasa tertekan karena antara keinginan, kemauan, dan usaha tidak sejalan.
Ditambah dengan ada rasa iri dengan teman-teman seangkatan yang sudah menerima
spk dan akan wisuda April nanti. Apakah Kak Insan punya tips, cara, kata-kata
motivasi, atau apapun itu untuk bisa lebih rajin menyelesaikan skripsi? Hmm…
Kak Insan juga kapan wisuda?
Hihihi, aku merasa surat ini lebih banyak curhat ya. Tapi
memang kebanyakan surat-surat yang kutulis sebagian besar isinya curhat. Tapi,
semoga Kak Insan tak risih untuk membaca surat ini. Emm… aku boleh ya menutup
surat ini dengan secuil puisi…
Bukan salah angin mengubah arah, barangkali hanya langkah
yang ingin menapak berbeda
Andai saja, suatu waktu semesta merestuiku menemuimu
Dengan pelbagai tanya juga resah, apakah kau bersedia
mengurainya?
Kata seorang pujangga, kepala kita hanya berisi perang
dengan kecemasan-kecemasan
Tapi jika hari saat kita berjumpa nanti akhirnya dipenuhi,
aku hanya ingin berbincang tentang hal-hal sederhana
Segala yang tak menyimpan curiga, segala yang orang lain
anggap biasa saja tapi kita menyebutnya sekotak bahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar