Untuk mimpi yang telah mempertemukan kita,
Aku semakin tak sabar ingin berjumpa denganmu, meski aku
belum tahu hari mana yang kau akan pilih, meski aku tak tahu penantianku harus
bersabar sampai kapan, namun yang jelas saat ini aku menikmati
perasaan-perasaan lain yang mulai tumbuh untukmu. Aku sering menunggu balasan
pesanmu hingga terlelap, padahal sebelumnya aku belum pernah seperti itu
kepadamu. Aku sering membayangkanmu ada di sampingku ketika sendiri atau
sebelum waktu tidurku tiba, di dalam keramaian pun aku sering membayangkanmu
seperti orang lain yang sedang duduk di kursi seberang atau bercengkerama
dengan teman. Kini, kau sedang penuh di kepalaku disertai harapan-harapan yang
berlebihan. Biarlah, aku jadi seorang pejatuh-cinta sekali lagi. Sebab dari
situlah semangat beranak-pinak mengiringi hari-hariku, terima kasih sudah
menjadi pengisi dalam diriku yang sempat kosong.
Di mimpiku, aku sedang berada di stasiun. Berlarian mengejar
entah apa dengan menggandeng tangan sahabatku, aku mencari seseorang; mungkin
kau. Sahabatku panik bukan kepalang, apalagi ketika langkahku yang derap itu
menuju kereta api yang akan meninggalkan peron. Aku melongok-longok di kaca
jendela, berharap menemukan sosok yang kucari. Hingga akhirnya dari kereta yang
hampir habis gerbongnya di dalam peron, aku menemukan seseorang keluar dari
satu pintu gerbong. Dia membawa koper beroda, dengan tiba-tiba aku menghambur
memeluknya. Lalu aku memperkenalkan orang itu kepada sahabatku dengan namamu.
Wajahmu begitu samar, buram oleh warna putih seperti kabut. Kau menggandengku
menuju pintu keluar stasiun, mengajakku makan di sebuah kedai, sahabatku
menanyaimu dengan pelbagai hal dan aku lebih sering tersenyum-senyum sendiri.
Kau menanyakan hal-hal aneh seperti yang sering kau tanyakan padaku ketika kita
sedang chat. Tiba-tiba aku terbangun ketika kita pergi meninggalkan kedai dan
jatuh ke dalam keriuhan serta keramain stasiun kereta. Aku seperti mendengar
lonceng nyaring berbunyi, ternyata alarm di handphoneku. Ah, sial sekali
padahal aku ingin bermimpi bersamamu lebih lama lagi. Tapi semoga kelak, ketika
kita direstui bertemu, semoga waktu bisa berjalan seirama dengan keinginanku
untuk bersamamu.
Kau berkata bahwa aku juga ada di mimpimu dan kau keheranan
karena tantemu mengenalku. Mungkin di semua mimpi setiap orang bisa mengenal
orang lain tanpa ritual perkenalan. Aku ingin mimpi-mimpi serupa yang
mempertemukanku denganmu akan sering hadir dalam bunga tidurku sampai masa di
mana aku benar-benar bertemu denganmu tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar