Rabu, 10 Februari 2016

Yang Mempertemukan Kita Lebih Dulu; Mimpi

Untuk mimpi yang telah mempertemukan kita,

Aku semakin tak sabar ingin berjumpa denganmu, meski aku belum tahu hari mana yang kau akan pilih, meski aku tak tahu penantianku harus bersabar sampai kapan, namun yang jelas saat ini aku menikmati perasaan-perasaan lain yang mulai tumbuh untukmu. Aku sering menunggu balasan pesanmu hingga terlelap, padahal sebelumnya aku belum pernah seperti itu kepadamu. Aku sering membayangkanmu ada di sampingku ketika sendiri atau sebelum waktu tidurku tiba, di dalam keramaian pun aku sering membayangkanmu seperti orang lain yang sedang duduk di kursi seberang atau bercengkerama dengan teman. Kini, kau sedang penuh di kepalaku disertai harapan-harapan yang berlebihan. Biarlah, aku jadi seorang pejatuh-cinta sekali lagi. Sebab dari situlah semangat beranak-pinak mengiringi hari-hariku, terima kasih sudah menjadi pengisi dalam diriku yang sempat kosong.
Di mimpiku, aku sedang berada di stasiun. Berlarian mengejar entah apa dengan menggandeng tangan sahabatku, aku mencari seseorang; mungkin kau. Sahabatku panik bukan kepalang, apalagi ketika langkahku yang derap itu menuju kereta api yang akan meninggalkan peron. Aku melongok-longok di kaca jendela, berharap menemukan sosok yang kucari. Hingga akhirnya dari kereta yang hampir habis gerbongnya di dalam peron, aku menemukan seseorang keluar dari satu pintu gerbong. Dia membawa koper beroda, dengan tiba-tiba aku menghambur memeluknya. Lalu aku memperkenalkan orang itu kepada sahabatku dengan namamu. Wajahmu begitu samar, buram oleh warna putih seperti kabut. Kau menggandengku menuju pintu keluar stasiun, mengajakku makan di sebuah kedai, sahabatku menanyaimu dengan pelbagai hal dan aku lebih sering tersenyum-senyum sendiri. Kau menanyakan hal-hal aneh seperti yang sering kau tanyakan padaku ketika kita sedang chat. Tiba-tiba aku terbangun ketika kita pergi meninggalkan kedai dan jatuh ke dalam keriuhan serta keramain stasiun kereta. Aku seperti mendengar lonceng nyaring berbunyi, ternyata alarm di handphoneku. Ah, sial sekali padahal aku ingin bermimpi bersamamu lebih lama lagi. Tapi semoga kelak, ketika kita direstui bertemu, semoga waktu bisa berjalan seirama dengan keinginanku untuk bersamamu.


Kau berkata bahwa aku juga ada di mimpimu dan kau keheranan karena tantemu mengenalku. Mungkin di semua mimpi setiap orang bisa mengenal orang lain tanpa ritual perkenalan. Aku ingin mimpi-mimpi serupa yang mempertemukanku denganmu akan sering hadir dalam bunga tidurku sampai masa di mana aku benar-benar bertemu denganmu tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik